Selasa, 17 Januari 2012


Karantina Haji Zaman Kolonial Belanda di Pulau Onrust

Hubungan  antara Timur Tengah dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama, bahkan sebelum Islam lahir di tanah jajirah Arab, Hubungan antara timur tengah dan Nusantara sudah terjalin. Namun Hubungan tersebut hanya sebatas perdagangan saja. Menurut sejarawan Hamka menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-7 (ini teori baru, teori sebelumnya Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13). Pernyataan Hamka ini perkuat dengan fakta sejarah yang mengemukakan bahwa dalam pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Arab yang ditulis oleh T.W. Arnold sejak abad ke-2 sebelum masehi sudah menguasai Ceylon. Pendangan yang serupa juga disampaikan oleh Abdullah bin Nuh dan Dr.Shahab dalam “Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia”. Kedua pendapat pembanding ini mengutip pendapat Cooke, bahwa sejak abad ke -2 SM pengaruh Arab sangat luas sekali dalam bidang perdagangan hingga Ceylon, selanjutnya kedua pembanding menambahkan keterangan Dr.Fuad Hasanain Ali yang menyatakan”…negara ini pada masa dahulu kala memainkan peranan penting dalam perdagangan dunia lama. Teristimewa antara negara-negara sekitar Samudera Hindia dan Laut Tengah.
Informasi tersebebut menjelaskan bahwa bangsa Arab telah sampai Cylon pada abad ke -2 SM. Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke Indonesia. Tetapi kita hubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang menyebutkan Al-Hind  adalah India atau pulau-pulau sebelah Timurnya sampai ke Cina, besar kemungkinan pada abad ke-2 SM bangsa arab telah sampai ke Indonesia. Hanya saja penyebutannya sebagi pulau-pulau Cina atau Al-Hind. Jika benar telah ada hubungan antara bangsa arab dengan Indonesia sejak abad ke-2 SM, maka bangsa Arab merupakan bangsa asing pertama yang datang ke Nusantara. Menurut keterangan D.H. Burger dan Prajurit Atmosudirdjo, bangsa India dan Cina baru mengadakan hubungan dwenagn Indonesia pada abad ke-1 M, sedangkan Hubungan Arab dengan Cina terjadi jauh lebih lama, melalui jalan darat yang biasa disebut Jalan Sutra.     
Dengan diketahuinya fakta ini, tidaklah mengherankan bila pada 674 M telah terdapat perkampungan pedagang Arab Islam di pantai Barat Sumatra, bersumber dari berita Cina. Setelah Islam, ajaran-ajaranya pun masuk ke ranah masyarakat Indonesia. Salah satu diantaranya  adalah Haji. Haji merupakan salah satu rukun Islam yang kelima. Wajib dilaksanakan bagi umat muslim yang sudah mampu. Karena kewajiban inilah,ada sebagian dari umat muslim di nusantara yang melaksanakannya.
Haji pada masa Kolonial Belanda diawasi sangat ketat. Hal ini dikarenakan pihak colonial khawatir akan adanya pemikiran-pemikiran yang menentang Belanda yang dibawa akibat dari perjalanan haii ini. Oleh karena itu ada tempat pengkarantinaan orang-orang yang ingin pergi haji.
Pulai Onrust Pulau Onrust merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta yang letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia. Di dalam pulau ini terdapat banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Nama ‘Onrust’ diambil dari bahasa Belanda yg artinya ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘Unrest’.
Sejak penjajahan bangsa Belanda di Indonesia, Pulau Onrust menjadi pulau yang sangat strategis sekaligus sangat sibuk. Onrust yang memiliki nama lain sebagai Pulau Kapal memang senantiasa sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Selain itu Pulau Onrust menjadi markas Belanda yang penting untuk menyerang daratan Jakarta.
Seiring berkurangnya pengarush Inggris di Hindia Belanda, pada tahun 1848, Belanda masuk kembali ke Pulau ini dan difungsikan sebagai Pangakalan Angkatan Laut. Namun pada tahun 1883, sarana prasarana yang telah dibangun oleh belanda kembali hancur berat akibat gelombang Tidal letusan gunung Krakatau. Pada tahun 1911 s.d. 1933, Pulau Onrust diubah fungsinya sebagai Karantiana Haji. Masyarakat Indonesia pada saat itu yang akan naik haji ke Mekah dikarantina terlebih dahulu di pulau ini baik ketika pergi maupun sepulangnya. Hal ini merupakan taktik dari Belanda untuk menekan pengaruh ulama-ulama pada masa itu. Belanda tahu bahwa pergoalakan/pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada saat itu karena dipengaruhi oleh besarnya kharismatik ulama di mata rakyatnya.
Perjalanan Haji ke tanah suci mekah ini merupakan sarana dimana masyarakat muslim di dunia berkumpul. Karena demikianlah kolonial Belanda sangat takut sekali para jemaah haji yang pualng dari tanah suci ini mendapat pemikiran-pemikiran baru yang ia dapat dari perjlalan suci ini. Pemikiran-pemikiran ini bisa saja dapat membahayakan eksistensi Kolonial Belanda di Indonesia. Pemikiran-pemikiran tersebut seperti di dalam Islam penjajahan tidak diperbolehkan. Semua manusia khususnya kaum muslimin berhak mendapatkan kemerdekaan. Pemikiran yang lebih ekstrim lagi adalah pemikiran tentang orang-orang yang memerangi umat Islam atau di sebut dengan orang-orang kafir dihalalalkan darahnya untuk dibunuh. Karena pemikiran-pemikiran tersebutlah, membuat pihak Kolonial Belanda merasa was-was apabila ada rakyat Indonesia yang akan dan telah datang dari perjalanan hajinya, sehingga penyelenggaraan haji pada zaman kolonial Belanda sangat diawasi sekali.
Selain itu motivasi Belanda datang ke Indonesia bukan hanya mencari rampah-raempah dan kekayaan lainnya di nusantara. Melainkan Belanda Juga mempunyai misi zending yaitu misi pengkristenisasian orang-orang di Nusantara. Belanda takut apabila ulama-ulama yang datang dari perjalanan hajinya memperoleh ilmu yang lebih dari sana. Satu lagi Belanda takut akan misi dakwah yang ulama-ulama bawa membuat misi zending mereka gagal. Dalam agama Islam, setiap muslim berkewajiban untuk meyebarkan  luaskan agama Islam atau berdakwah. Nah…dengan semangat dakwah inilah yang ditakutkan oleh pihak Belanda.

Daftar Sumber
Suryanegara, Ahmad Mansur. 1995.
Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung : Mizan

1 komentar:

  1. Beberapa di antara mereka membawa pemikiran Wahabi. Jika Belanda memandang Wahabi adalah penegas gerakan pemebrontakan kepada Belanda, maka itu keliru. Sebagai contoh, Tuanku Imam Bonjol yang diklaim kaum Wahabi Indonesia sebagai dari pihak mereka ternyata adalah pengikut sufi. Jelas terlihat dari imamah yang dipakai oleh beliau, sedangkan Wahabi mengharamkan imamah dengan alasan merupakan tasyabuh kepada Syi'ah. Konyolnya Wahabi mengikuti gaya ala para rabbi Yahudi dan (bisa jadi) para petinggi Katholik di Vatikan.

    Jangan lupa untuk berkunjung ke blog baru saya (http://fajarinlander.blogspot.com). Hanya sebuah blog sederhana tentang Nederlands-Indie. Terima kasih.

    BalasHapus