Selasa, 17 Desember 2013

LABIRIN DI MUSEUM ULLEN SENTALU




Berjalan-jalan ke kota Gudeg Yogya, tak lengkap rasanya bila tidak ke daerah Kaliurang. Udara yang sejuk, pemandangan hijau, dan gagahnya gunung Merapi akan menghiasi perjalanan kita ke daerah yang disebut-sebut daerah tempat tinggal juru kunci merapi alm.mbah Marijan. Bila kita berjalan ke Kaliurang, sempatkanlah untuk mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Nama Ullen Sentalu merupakan singkatan dari bahasa Jawa yaitu " ULating bLENcong SEjatiNe TAtaraning LUmaku" yang artinya adalah "nyala Lampu Blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan". Falsafah ini diambil dari sebuah lampu minyak yang dipergunakan dipertunjukkan wayang kulit (blencong) dan ini merupakan cahaya yang bergerak untuk mengarahkan dan menerangi perjalanan hidup kita. Museum ini terletak di daerah Pakem, Kaliurang  (bagian utara kota Yogyakarta). 
Ketika kita memasuki museum ini, aroma bunga kantil yang menyerbak harum menyambut kedatangan pengunjung. Aroma bunga kantil ini alami berasal dari pohon bunga kantil yang tersebar di areal museum. Di Museum ini kita dapat mengetahui kehidupan keraton, dari tarian-tarian yang hanya dilaksanakan di Dinasti Mataram hingga kisah dari putra-putri keraton diceritakan dari lukisan dan foto-foto koleksi museum. Museum ini didirikan tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997. Museum ini dikelola oleh swasta dengan harga masuk 30.000 rupiah. Harga yang relatif murah bila dibandingkan dengan pengalaman kita bila memasuki museum ini. Akan tetapi pengunjung tidak boleh sembarangan mengambil foto di sekitar areal museum, hanya bagian-bagian tertentu saja yang dapat diabadikan oleh pengunjung.  
Ada sesuatu yang menarik dari museum ini, yaitu konsep bangunan labirin. konsep labirin ini mengandung makna hidup manusia itu berliku-liku seperti labirin. Pengunjung akan dibuat seolah-olah mengunjungi ruangan yang sama dengan isi pameran museum yang berbeda-beda. Setelah lelah kita menelusuri konsep labirin ini, kita akan disuguhkan minuman awet muda yang biasa diminum oleh putri-putri keraton. Minuman ini semacam wedang jahe yang dicampur dengan bahan rempah-rempah lainnya akan membuat pikiran kita lebih rileks dan segar kembali.

Senin, 16 Desember 2013

PENGEMBANGAN WAWASAN VOLUNTER MUSEUM





Pernahkah kita mendengar kata volunter? mungkin banyak di antara kita  yang tidak tahu, apa arti volunter itu. Biasanya telinga kita lebih akrab mendengar kata relawan. Volunter berasal dari kata volunteer dari bahasa Inggris yang berarti sukarelawan. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia volunter adalah orang yang melakukan suatu pekerjaan secara suka rela (pekerja, tentara, dsb). Jadi kata volunter dapat di simpulkan bahwa volunter adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan pekerjaan secara sukarela.
Volunter museum pertama kali muncul di setiap negara berbeda-beda. Misalnya saja di USA pada tahun 1820-an telah berkembang kegiatan volunter di Field Museum of Natural History, Chicago dengan mesponsori perpustakaan museum, pengadaan koleksi, dan macam-macam program kegiatan untuk publik.
Contoh lainnya pada tahun 1989 di Museum Smithsonian yang memperkerjakan sukarelawan sebanyak 5.252 orang. Menurut data ada sekitar 30.000 sukarelawan yang berkerja di museum-museum Inggris, jumlah tersebut mampir menyamai jumlah pegawai tetap museum di sana yaitu sekitar 40.000 orang (Dian Sulistyowati, 2012:81).
Di Negeri kita Indonesia, kegiatan volunter museum baru dimulai sekitar tahun 1970-an di museum Nasional. Para Volunter ini membentuk suatu komunitas yang diberi nama "Ganesha Society". komunitas ini terdiri dari para istri pengusaha dan istri orang-orang asing yang bekerja di Indonesia. Jumlah mereka sekitar 50-an berkerja secara sukarela di bidang koleksi, menerjemahkan inventaris koleksi, tour guide, dan ceramah-ceramah untuk mereka dan sampai sekarang masih tetap ada dengan nama baru yaitu Indonesian Heritage Society (Tour Guide di Museum Nasional dalam tiga bahasa). Selain di Museum Nasional, tahun 80-an di daerah Kalimantan Selatan didirikan juga "Lambung Mangkurat Museum Club" bertepatan diresmikan pendirian Museum Negeri Lambung Mangkurat. Club ini terdiri dari Guru dan Siswa SLTA di Banjarbaru. Sayangnya, Club tersebut hanya bisa bertahan sekitar 3 tahun saja.

Apa sih sebenarnya yang dapat kita lakukan sebagai volunter museum?wah...banyak sekali yang dapat kita lakukan sebagai volunter museum, seperti membantu dalam bidang bimbingan edukasi, pendokumentasian koleksi, perawatan dan pemeliharaan koleksi, merencanakan dan membuat program-program untuk publik dan membantu mempromosikan museum kepada khalayak ramai. Lalu apa yang mereka harapkan ketika menjadi seorang volunter?sedangkan mereka hanya pekerja sukarelawan tak diberi salary, Adapun alasan mereka menjadi seorang volunter salah satunya merek ingin mengembangkan, menyalurkan ilmu yang mereka peroleh dan mereka ingin belajar tentang lingkungan di sekitar museum. selain itu adapun motivasi lainnya di antaranya: mereka ingin mendapatkan rasa kesosialan dan kekawanan (friendship), mereka memiliki perhatian dan komitmen terhadap museum, mereka ingin membantu orang lain, mereka ingin meningkatkan karirnya, dan ketika mereka menjadi volunter museum status mereka meningkat.
Melihat motivasi yang besar dari mereka untuk menjadi volunter museum, ada baiknya pegawai museum memfasilitasi mereka dengan cara melakukan rekuitmen volunter, menempatkan mereka pada bidang-bidang yang sesuai minat dan ilmu mereka, membagi tugas, membentuk koordintor volunter museum, mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mereka, dan merekrut  para pensiunan khususnya para guru untuk menjadi volunter. Dengan adanya volunter museum ini diharapkan museum-museum bisa berkembang lebih baik dan masyarakat bisa lebih mencintai museum. Hal ini sesuai dengan motto museum " Museum Selalu di Hati".

sumber : workshop pengembangan wawasan museum, Jakarta-Jogyakarta (9-11 Desember 2013).

Rabu, 02 Oktober 2013

SEJARAH PERKOTAAN


Berbicara tentang kota, kita akan terbayang penduduk yang padat, kehidupan yang dinamis, dan banyak gedung-gedung bertingkat. Lalu, apa sih pengertian kota yang dimaksud?. Menurut para ahli ada beberapa pengertian kota diantaranya:
  1. Max Weber
Penghuni ditempat tersebut (kota) dapat memenuhi sebagian besar ekonominya di pasar lokal.
  1. Dwigh Sanderson
Kota adalah tempat yang penduduknya sepuluh ribu orang atau lebih.
Kota menurut sejarawan adalah kota merupakan perubahan dari desa. Desa yang tak mampu menahan laju dari pelebaran dari wilayah kota. Biasanya desa yang demikian adalah desa yang dekat wilayah perkotaan. Ada pun perkembangan wilayah perkotaan diantaranya adalah karena pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi.
Suatu kota tidak lah langsung menjadi kota yang kita lihat. Ada suatu proses perubahan yang dialami oleh kota tersebut, contoh kota Majalengka. Di buku Sejarah Majalengka,  kota  Majalengka yang dahulunya bernama Sindangkasih merupakan bagian dari keresidenan Cirebon. Proses pembentukan kabupaten Majalengka tidak lepas dari adanya hubungan antara pemerintah pusat dan rakyat daerah. Pembentukan kabupaten Majalengka tidak lepas dari campur tangan dari pihak Kolonial Belanda. Di dalam staatsblad  1819 No.9 pada tanggal 5 Janari 1819 tercantum Surat keputusan dari Residen Cirebon No.23 mengenai Pembentukan Kabupaten Maja. Pembentukan Kabupaten Maja ini merupakan cikal bakal dari pembentukan kabupaten Majalaya. Kemudian  di dalam staatsblad 1840 No.7 tanggal 11 Februari 1840 ada perubahan nama Kabupaten Maja dengan ibukota Sindangkasih berubah menjadi Kabupaten Majalengka dengan ibukota Majalengka. Perubahan kota Majalengka ini diimbangi oleh perkembangan pembangunan, transportasi dan saran prasarana disana. Selain itu dibukanya pabrik gula jatiwangi dan sekolah-sekolah disana, bertambah ramainya kota Majalaya.
Seperti halnya dengan kota Majalengka yang berkembang karena campur tangan pihak kolonial Belanda, Kota Cianjur juga demikian. Kota Cianjur berkembang juga dikarenakan ada pembangunan yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Pada masa awalnya berdirinya kabupaten Cianjur, ibukota Cianjur berada di Pamoyanan, tetapi hanya singkat saja. Ketika Aria Tanu III (1707-1726) menjabat sebagai bupati Cianjur, ibukota Cianjur dipindahkan ke kampung Cianjur. Bupati Aria Tanu III juga membuat Cianjur menjadi daerah pertama penghasil kopi di Priangan. Pembangunan dan perluasan daerah Cianjur bukan hanya terhendi pada masa bupati Aria Tanu III, tetapi masih tetap dilanjutkan oleh Aria Wira Tanu Datar IV berkuasa (1727-1761). Selain itu pembuatan Jalan Raya Pos oleh Daendles melalui jalur Batavia-Buitenzorg-Puncak-Cianjur-Bandung-Sumedang, menambah ramai kota Cianjur, dan semakin berkembang pula kota tersebut. Perkembangan kota Cianjur juga diikuti oleh perkembangan sarana dan Prasarana yang disediakan, misalnya dari segi transportasi. Dari segi transportasi dibangun jalur kereta api yang melewati kota Cianjur. Jalur kereta api ini juga digunakan sebagai transportasi untuk mengangkut hasil panen Kopi dari daerah Cianjur. Selain itu, perkembangan di dunia pendidikan tidak luput dari perubahan kota Cianjur ini. Institusi pendididkan terdiri atas institusi pendidikan yang dibangun oleh pemerintahan colonial Belanda dan Swasta. Oleh karena itu, di kota Cianjur berkembang pula pergerakan-pergerakan. Salah stu pergerakan yang muncul di Cianjur diantaranya Sarekat Islam (SI).
Berbeda dengan kota Cilacap, kota Cilacap dikenal sebagai kota pelabuhan di daerah selatan pulau Jawa bukan dari jalur pelayaran tradisional yang terbentang di pesisir pantai utara Jawa. Pelabuhan ini juga pernah menjadi gerbang eksport impor yang paling aktif pada masa Hindia Belanda. Perkembangan kota Cilacap sebagai kota pelabuhan tidak berlangsung lama. Kota ini runtuh sebagai kota pelabuhan diakibatkan dari kebijakan pemerintah yang tumpang-tindih. Pembangunan jalan raya di Jawa juga penyebab runtuhnya kota pelabuhan ini. Selain itu posisi Kota Cilacap yang berada di daerah pantai selatan Pulau jawa yang sangat sulit sekali ditempuh oleh pelayaran karena ombaknya terlalu besar (berbatasan langsung dengan samudera Hindia), sehingga banyak pelayaran para pedagang luar negeri tidak melalui jalur tersebut dan lebih memilih jalur Utara pulau jawa, akibatnya jalur Selatan ini sepi. Maka dari itu, aktivitas pelabuhan ini menjadi redup.
 Perkembangan sejarah Perkotaan di Indonesia berbeda-beda di setiap daerah. Perkembangan kota di sini tergantung dari potensi yang dimiliki oleh kota tersebut. Ada yang berkembang dari segi perekonomian, ada yang berkembang karena pendidikan, dan juga karena ada pusat pemerintahan disana. Perkembangan kota ini juga dikarenakan adanya kebijakan dari pemerintahan pada masa itu. Namun ada kalanya kebijakan yang dikeluarkan tidak menguntungkan kota tersebut, seperti halnya kota Cilacap. Jadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat berpengaruh bagi perkembangan kota tersebut.


Daftar Sumber :

Kartika,N. 2007 Sejarah Majalengka : Sindangkasih - Maja - Majalengka.Uvula Press : Bandung.

Dienaputra, Reiza D. 2004. Cianjur : Antara Priangan dan Buitenzorg. Sejarah Cikal Bakal Cianjur dan Perkembangannya Hingga 1947. Bandung :Prolitera

Zundi, Susanto.2002. Cilacap (1830-1942) : Bangkit dan Runtuhnya Suatu pelabuhan di Jawa. Jakarta : Kepustakaan Populer di Indonesia

Pengaruh Islam terhadap Tujuh Unsur Kebudayaan



Kita mengetahui bahwa Islam yang datang ke Indonesia berasal dari berbagai wilayah. Ada empat teori yaitu teori Arab, teori Persia, Teori Gujarat, da teori Cina. Dari keempat teori ini masing-masing wilayah meninggalkan kebudayaan yang berbeda pula. Teori Arab meninggalkan dari segi religi meninggalkan sebuah mazhab yang banyak dianut oleh penduduk di Indonesia, selain itu dari segi bahasa, bahasa Indonesia banyak menginversikan dari bahasa Arab misalnya tarif dari ta’arif, Syukur,dan masih banyak lagi. Teori Persia menyebutkan hasil dari kebudayaan Persia yang masih ada di Indonesia adalah peringatan peristiwa wafatnya Hasan Husein yang masih berlangsung di Sumatra barat, yang disebut dengan peringatan Tabuik.  Teori Gujarat  penggagasnya adalah Snouguch Hugronje dibuktikan dengan adanya peninggalan batu nisan Malik Al-Shaleh Raja dari Kerajaan Samudera Pasai. Sedangkan Cina meninggalkan kebudayaan berupa baju taqwa (baju koko), dan Songkok (kopiah).

Terlepas dari keempat teori teori tersebut, Islam masuk ke Indonesia harus menghadapi kebudayaan lokal yang sudah ada  seperti kebudayaan Hindu-Budha. Untuk itu, dakwah Islam di Indonesia mengakulturasikan dengan kebudayaan lokal setempat. Misalnya saja dakwah yang dibawa oleh salah satu wali songo, Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menggunakan media wayang sebagai alat untuk berdakwah. Selain inu ada konsep “Meru” dalam pembuatan Masjid Demak, Konsep Meru (atap Tumpang) pada atap Masjid Demak menandakan kebudayaan Islam telah berakulturasi dengan lokal (Hindu-Budha) dari segi arsitektur. Akulturasi ini menandakan merupakan agama yang toleran terhadap agama lain.
Peranan Islam dalam pendidikan juga memberikan sumbangan yang besar. Hal ini terlihat didirikannya pondok-pondok pesantren yang berguna untuk menimba ilmu agama Islam. Pendirian pesantren-pesantren ini, membuka peluang para pemuda Indonesia untuk mempelajari Islam dan Al-Quran. Al-Quran yang dipelajari bukan hanya memuat bagaimana tata cara beribadah saja, dari segi ilmu pengetahuan juga ada di Al-Quran, sehingga dengan masuknya Islam di Indonesia membuka cakrawala ilmu pengetahuan yang lebih luas dari sebelum masuknya agama Islam.
Islam mengajarkan sistem baru dalam bidang perekonomian. Sebelum datangnya Islam perekonomian di Indonesia menggunakan sistem barter, kemudian berpindah ke sistem perdagangan. Dari sistem perdagangan ini dikenalkan uang sebagai alat untuk pembayaran. Mengapa sistem perdagangan? Sistem perdagangan ini dianjurkan dan menjadi Sunah bagi umat muslim, karena diajarkan dan dipraktekkan  oleh Rasullah SAW.
Segi religi dalam islam juga menawarkan proses pengkuburan yang berbeda dari kebudayaan Hindu-Budha. Pada masa Hindu Budha, sistem kuburan dilakukan dengan cara membakar (kremasi) jenasah. Di Islam hal tersebut tidak ada. Islam mengajarkan manusia yang berasal dari tanah harus kembali ke tanah. Jadi manusia yang sudah mati harus di kubur dalam tanah. Konsep ini berbeda dari konsep sebelum masuknya Islam.
Jadi, dengan demikian proses masuknya agama Islam memengaruhi semua aspek kehidupan tanpa terkecuali, termasuk sistem kebudayaan. Adanya akulturasi budaya Islam di Indonesia menandakan Islam masuk ke Indonesia bersifat toleran terhadap agama lain, Islam yang masuk ke Indonesia dilakukan secara damai tak ada paksaan untuk masuk ke dalam Islam. Hal ini yang membuat banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam.
 Daftar sumber :
Suryanegara, Ahmad Mansur.1995.
            Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia.Bandung : Mizan