- Max Weber
Penghuni ditempat tersebut (kota)
dapat memenuhi sebagian besar ekonominya di pasar lokal.
- Dwigh Sanderson
Kota
adalah tempat yang penduduknya sepuluh ribu orang atau lebih.
Kota menurut sejarawan adalah kota merupakan perubahan
dari desa. Desa yang tak mampu menahan laju dari pelebaran dari wilayah kota. Biasanya desa yang
demikian adalah desa yang dekat wilayah perkotaan. Ada pun perkembangan wilayah perkotaan
diantaranya adalah karena pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi.
Suatu kota tidak lah langsung menjadi kota yang kita lihat. Ada suatu proses perubahan yang dialami oleh kota tersebut, contoh kota Majalengka. Di buku Sejarah
Majalengka, kota
Majalengka yang dahulunya bernama Sindangkasih
merupakan bagian dari keresidenan Cirebon.
Proses pembentukan kabupaten Majalengka tidak lepas dari adanya hubungan antara
pemerintah pusat dan rakyat daerah. Pembentukan kabupaten Majalengka tidak
lepas dari campur tangan dari pihak Kolonial Belanda. Di dalam staatsblad 1819 No.9 pada tanggal 5 Janari 1819 tercantum
Surat keputusan dari Residen Cirebon No.23 mengenai Pembentukan Kabupaten Maja.
Pembentukan Kabupaten Maja ini merupakan cikal bakal dari pembentukan kabupaten
Majalaya. Kemudian di dalam staatsblad 1840 No.7 tanggal 11 Februari
1840 ada perubahan nama Kabupaten Maja dengan ibukota Sindangkasih berubah
menjadi Kabupaten Majalengka dengan ibukota Majalengka. Perubahan kota Majalengka ini
diimbangi oleh perkembangan pembangunan, transportasi dan saran prasarana
disana. Selain itu dibukanya pabrik gula jatiwangi dan sekolah-sekolah disana,
bertambah ramainya kota
Majalaya.
Seperti halnya dengan kota
Majalengka yang berkembang karena campur tangan pihak kolonial Belanda, Kota Cianjur
juga demikian. Kota Cianjur berkembang juga dikarenakan ada pembangunan yang
dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Pada masa awalnya berdirinya kabupaten
Cianjur, ibukota Cianjur berada di Pamoyanan, tetapi hanya singkat saja. Ketika
Aria Tanu III (1707-1726) menjabat sebagai bupati Cianjur, ibukota Cianjur
dipindahkan ke kampung Cianjur. Bupati Aria Tanu III juga membuat Cianjur
menjadi daerah pertama penghasil kopi di Priangan. Pembangunan dan perluasan
daerah Cianjur bukan hanya terhendi pada masa bupati Aria Tanu III, tetapi
masih tetap dilanjutkan oleh Aria Wira Tanu Datar IV berkuasa (1727-1761).
Selain itu pembuatan Jalan Raya Pos oleh Daendles melalui jalur
Batavia-Buitenzorg-Puncak-Cianjur-Bandung-Sumedang, menambah ramai kota Cianjur, dan semakin berkembang pula kota tersebut.
Perkembangan kota
Cianjur juga diikuti oleh perkembangan sarana dan Prasarana yang disediakan,
misalnya dari segi transportasi. Dari segi transportasi dibangun jalur kereta
api yang melewati kota
Cianjur. Jalur kereta api ini juga digunakan sebagai transportasi untuk
mengangkut hasil panen Kopi dari daerah Cianjur. Selain itu, perkembangan di
dunia pendidikan tidak luput dari perubahan kota Cianjur ini. Institusi pendididkan terdiri
atas institusi pendidikan yang dibangun oleh pemerintahan colonial Belanda dan
Swasta. Oleh karena itu, di kota
Cianjur berkembang pula pergerakan-pergerakan. Salah stu pergerakan yang muncul
di Cianjur diantaranya Sarekat Islam (SI).
Berbeda dengan kota Cilacap, kota Cilacap dikenal sebagai kota pelabuhan di daerah selatan pulau Jawa
bukan dari jalur pelayaran tradisional yang terbentang di pesisir pantai utara
Jawa. Pelabuhan ini juga pernah menjadi gerbang eksport impor yang paling aktif
pada masa Hindia Belanda. Perkembangan kota
Cilacap sebagai kota
pelabuhan tidak berlangsung lama. Kota ini
runtuh sebagai kota
pelabuhan diakibatkan dari kebijakan pemerintah yang tumpang-tindih.
Pembangunan jalan raya di Jawa juga penyebab runtuhnya kota pelabuhan ini. Selain itu posisi Kota
Cilacap yang berada di daerah pantai selatan Pulau jawa yang sangat sulit
sekali ditempuh oleh pelayaran karena ombaknya terlalu besar (berbatasan
langsung dengan samudera Hindia), sehingga banyak pelayaran para pedagang luar
negeri tidak melalui jalur tersebut dan lebih memilih jalur Utara pulau jawa,
akibatnya jalur Selatan ini sepi. Maka dari itu, aktivitas pelabuhan ini
menjadi redup.
Perkembangan sejarah Perkotaan di
Indonesia berbeda-beda di setiap daerah. Perkembangan kota
di sini tergantung dari potensi yang dimiliki oleh kota tersebut. Ada yang berkembang dari segi
perekonomian, ada yang berkembang karena pendidikan, dan juga karena ada
pusat pemerintahan disana. Perkembangan kota
ini juga dikarenakan adanya kebijakan dari pemerintahan pada masa itu. Namun
ada kalanya kebijakan yang dikeluarkan tidak menguntungkan kota
tersebut, seperti halnya kota
Cilacap. Jadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat berpengaruh
bagi perkembangan kota tersebut.
Daftar Sumber :
Kartika,N. 2007 Sejarah Majalengka : Sindangkasih - Maja -
Majalengka.Uvula Press : Bandung.
Dienaputra,
Reiza D. 2004. Cianjur : Antara Priangan
dan Buitenzorg. Sejarah Cikal Bakal Cianjur dan Perkembangannya Hingga 1947.
Bandung
:Prolitera
Zundi,
Susanto.2002. Cilacap (1830-1942) : Bangkit
dan Runtuhnya Suatu pelabuhan di Jawa. Jakarta : Kepustakaan Populer di Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar