Rabu, 02 Oktober 2013

SEJARAH PERKOTAAN


Berbicara tentang kota, kita akan terbayang penduduk yang padat, kehidupan yang dinamis, dan banyak gedung-gedung bertingkat. Lalu, apa sih pengertian kota yang dimaksud?. Menurut para ahli ada beberapa pengertian kota diantaranya:
  1. Max Weber
Penghuni ditempat tersebut (kota) dapat memenuhi sebagian besar ekonominya di pasar lokal.
  1. Dwigh Sanderson
Kota adalah tempat yang penduduknya sepuluh ribu orang atau lebih.
Kota menurut sejarawan adalah kota merupakan perubahan dari desa. Desa yang tak mampu menahan laju dari pelebaran dari wilayah kota. Biasanya desa yang demikian adalah desa yang dekat wilayah perkotaan. Ada pun perkembangan wilayah perkotaan diantaranya adalah karena pendidikan, pemerintahan, dan ekonomi.
Suatu kota tidak lah langsung menjadi kota yang kita lihat. Ada suatu proses perubahan yang dialami oleh kota tersebut, contoh kota Majalengka. Di buku Sejarah Majalengka,  kota  Majalengka yang dahulunya bernama Sindangkasih merupakan bagian dari keresidenan Cirebon. Proses pembentukan kabupaten Majalengka tidak lepas dari adanya hubungan antara pemerintah pusat dan rakyat daerah. Pembentukan kabupaten Majalengka tidak lepas dari campur tangan dari pihak Kolonial Belanda. Di dalam staatsblad  1819 No.9 pada tanggal 5 Janari 1819 tercantum Surat keputusan dari Residen Cirebon No.23 mengenai Pembentukan Kabupaten Maja. Pembentukan Kabupaten Maja ini merupakan cikal bakal dari pembentukan kabupaten Majalaya. Kemudian  di dalam staatsblad 1840 No.7 tanggal 11 Februari 1840 ada perubahan nama Kabupaten Maja dengan ibukota Sindangkasih berubah menjadi Kabupaten Majalengka dengan ibukota Majalengka. Perubahan kota Majalengka ini diimbangi oleh perkembangan pembangunan, transportasi dan saran prasarana disana. Selain itu dibukanya pabrik gula jatiwangi dan sekolah-sekolah disana, bertambah ramainya kota Majalaya.
Seperti halnya dengan kota Majalengka yang berkembang karena campur tangan pihak kolonial Belanda, Kota Cianjur juga demikian. Kota Cianjur berkembang juga dikarenakan ada pembangunan yang dilakukan oleh pihak kolonial Belanda. Pada masa awalnya berdirinya kabupaten Cianjur, ibukota Cianjur berada di Pamoyanan, tetapi hanya singkat saja. Ketika Aria Tanu III (1707-1726) menjabat sebagai bupati Cianjur, ibukota Cianjur dipindahkan ke kampung Cianjur. Bupati Aria Tanu III juga membuat Cianjur menjadi daerah pertama penghasil kopi di Priangan. Pembangunan dan perluasan daerah Cianjur bukan hanya terhendi pada masa bupati Aria Tanu III, tetapi masih tetap dilanjutkan oleh Aria Wira Tanu Datar IV berkuasa (1727-1761). Selain itu pembuatan Jalan Raya Pos oleh Daendles melalui jalur Batavia-Buitenzorg-Puncak-Cianjur-Bandung-Sumedang, menambah ramai kota Cianjur, dan semakin berkembang pula kota tersebut. Perkembangan kota Cianjur juga diikuti oleh perkembangan sarana dan Prasarana yang disediakan, misalnya dari segi transportasi. Dari segi transportasi dibangun jalur kereta api yang melewati kota Cianjur. Jalur kereta api ini juga digunakan sebagai transportasi untuk mengangkut hasil panen Kopi dari daerah Cianjur. Selain itu, perkembangan di dunia pendidikan tidak luput dari perubahan kota Cianjur ini. Institusi pendididkan terdiri atas institusi pendidikan yang dibangun oleh pemerintahan colonial Belanda dan Swasta. Oleh karena itu, di kota Cianjur berkembang pula pergerakan-pergerakan. Salah stu pergerakan yang muncul di Cianjur diantaranya Sarekat Islam (SI).
Berbeda dengan kota Cilacap, kota Cilacap dikenal sebagai kota pelabuhan di daerah selatan pulau Jawa bukan dari jalur pelayaran tradisional yang terbentang di pesisir pantai utara Jawa. Pelabuhan ini juga pernah menjadi gerbang eksport impor yang paling aktif pada masa Hindia Belanda. Perkembangan kota Cilacap sebagai kota pelabuhan tidak berlangsung lama. Kota ini runtuh sebagai kota pelabuhan diakibatkan dari kebijakan pemerintah yang tumpang-tindih. Pembangunan jalan raya di Jawa juga penyebab runtuhnya kota pelabuhan ini. Selain itu posisi Kota Cilacap yang berada di daerah pantai selatan Pulau jawa yang sangat sulit sekali ditempuh oleh pelayaran karena ombaknya terlalu besar (berbatasan langsung dengan samudera Hindia), sehingga banyak pelayaran para pedagang luar negeri tidak melalui jalur tersebut dan lebih memilih jalur Utara pulau jawa, akibatnya jalur Selatan ini sepi. Maka dari itu, aktivitas pelabuhan ini menjadi redup.
 Perkembangan sejarah Perkotaan di Indonesia berbeda-beda di setiap daerah. Perkembangan kota di sini tergantung dari potensi yang dimiliki oleh kota tersebut. Ada yang berkembang dari segi perekonomian, ada yang berkembang karena pendidikan, dan juga karena ada pusat pemerintahan disana. Perkembangan kota ini juga dikarenakan adanya kebijakan dari pemerintahan pada masa itu. Namun ada kalanya kebijakan yang dikeluarkan tidak menguntungkan kota tersebut, seperti halnya kota Cilacap. Jadi kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat berpengaruh bagi perkembangan kota tersebut.


Daftar Sumber :

Kartika,N. 2007 Sejarah Majalengka : Sindangkasih - Maja - Majalengka.Uvula Press : Bandung.

Dienaputra, Reiza D. 2004. Cianjur : Antara Priangan dan Buitenzorg. Sejarah Cikal Bakal Cianjur dan Perkembangannya Hingga 1947. Bandung :Prolitera

Zundi, Susanto.2002. Cilacap (1830-1942) : Bangkit dan Runtuhnya Suatu pelabuhan di Jawa. Jakarta : Kepustakaan Populer di Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar