Senin, 09 September 2013

Buku Petama ku dengan Teman-Teman FLP Jatinangor

"Seribu Kebaikan Untukmu" buku yang ku nanti-nanti. Buku ini berisikan Tentang 21 kisah penggugah rasa syukur. Hasil karya Penulis muda dari latar belakang pendidikan yang berbeda memberikan warna-warni cerita di dalamnya. Penulis-penulis muda yang mengisi tulisan di buku ini akan mengantarkan pembaca untuk melihat lebih dekat orang-orang di sekitar kita yang merupakan kaum minoritas. Semoga "Seribu Kebaikan ini" memberikan seribu hikmah bagi para pembacanya.

Jumat, 06 September 2013

Agama dan Filsafat di India




Agama yang pertama dan yang tertua di dunia yaitu Hindu. Agama ini merupakan lanjutan  dari kepercayan Indo Arya Weda (Brahmanisme). Pengetahuan mengenai  kepercayaan Indo Arya berasal dari kitab-kitab veda yang berisi nyanyian pujian yang diturunkan dalam tiga bentuk perubahan, yaitu Reg-Veda, Sama-Veda, Yajur-Veda. Reg-Veda terdiri dari 1028 lagu pujianmerupakan bentuk yang paling tua. Buku tersebut berisi pemujaan terhadap dewa-dewa. Sama-Veda terdiri dari ayat-ayatyang terdapat dalam Reg-Veda. Sama-Veda diatur dalam bentuk suatu Himne utuk dipergunakan oleh para Udagantri atau para penyayi lagu-lagu pujaan, berbeda dengan dengan Yajur-Veda. Yajur-Veda berbentuk prosa, merupakan doa-doa yang diucapkan oleh para pendeta yang melakukan pujaan. selainitu ada juga Artharva Vedayang berbeda fungsi dan berisi lagu pujian yang indah. Pada pokoknya Artharva Veda ini berisikan mantra-mantra dan rumus-rumus magis. Nyanyian-nyanyian pujaan tersebut diturunkan secara turun temurun atau Oral History. Namun pengecualin bagi orang-orang Sudra.
Bangsa-bangsa Indo-Arya itu mendiami kawasan disebelah timur sungi Indus, diantara sungai-sungai Suttejdan Yamuna. Daerah itu kemudian lebih dikenal sebagai Brahmanavatara atau Aryavatara yang memiliki arti tempat-tempat kaum Brahma dan orang-orang Arya tinggal. Mereka adalah pengembara yang mempunyai kemampuan bersyair tinggi, meskipun mereka tidak mengenal budaya bahasa tulis. Kesusastraan mereka dapat dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode Veda, Brahmana dan upanisad. Kesusastraan lisan ini merupakan bentuk transisi kebudayaan zaman prasejarah ke zaman sejarah.
Selain kitab-kitab yang berisi syair dan pujian-pujian, ada juga cerita-cerita kepahlawanan yang memuat ajaran–ajaran Hindu.cerita-cerita itu disebut epos (wiracarita). Epos yang terkenal dalam kesusastraan India yaitu Mahabarata dan Ramayana. Mahabarata menceritakan tetang keluarga besar bharata yang disusun dalam bentuk Syair yang panjang, dan berkembang menjadi 100.000 bait. Sedangkan Ramayana menceritakan kepahlawanan Rama dan Sinta, istrinya ketika harus melawan keangkaramurkaan Ravana, raja raksasa.
Konsep ketuhanan masyarakat Hindu adalah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun ajaran Hindu seringkali dianggap sebagai ajaran politheisme. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu adwaita wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman) yang memanifestasikan dirinya kepada manusia dalam berbagai bentuk.
Dalam agama Hindu ada lima keyakinan kepercayaan, yaitu :
1.      Widhi Tattawa              : percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya.
2.      Atma Tattawa               : percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk.
3.      Karmaphala Tattawa    : percaya dengan adanya hokum sebab akibat dalam setiap perbuatan
4.      Punarbhawa Tattawa    : percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5.      Moksa Tattawa            : percaya bahwa kebahagian tertinggi merupakan tujuan akhir manusi.

Antara Vedanta dan Samkya

            Vedanta dan Samkya adalah nama-nama filsafat dan pandangan hidup orang-orang Indo-Arya. Keduanya mempunyai kebebasanyang mendasar dalam memandang hakikat hidup tepatnya megenai ruh kehidupan. Pandangan filsafat Samkya merupakan reaksi dan koreksi terhadap pandangan filsafat wedanta yang dianggap tidak tepat. Masa pengembangan filsafat Wedanta berlangsung di antara 800 hingga 600SM, yaiyu ketika para pemikir arya merasa tidak puas terhadap perkembangan pemikiran filsafat agama pada saat itu secara mendalam.
Adapun ajaran-ajaran filsafat lainnya, yaitu Upanishad. Upanishad berasal dari kata-kata Upa-nir-shad yang berarti duduk bersimpuhdi dekat sang guru, karena mengharapkan pengetahuan tentang hakikat hidup. Inti dari ajaran ini adalah Moksha atau Mukti (keadaan tanpa kekangan), yang kedua ialah kepercayaan akan jiwa dunia, yang disebut Atman (asal dari seluruh jiwa perorangan, dan merupakan tempat segala ruh perorangankembali dan menyatu dengannya. Ajaran filsafah ini lebih menekankan kepada upaya pembebasan diri dari kesengsaraan hidup dengan cara pemehaman atau pengetahuan mengenai hakikat hidup daripada sekedar mantra-mantra maupun pengorbanan. Etika Upanishad dengan demikian sangat Pragmatis karena beranggapan bahwa kebenaran maupun kejelekan itu larut dalam serapan Brahman atau jiwa perorangan.
Konsep ketuhanan
Agama Hindu merupakan agama yang tertua di di Dunia. Meliahat reantang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para sarjana mengenai akaran agama Hindu. Menurut mereka gama Hindu memiliki beberapa konsep ketuhanan, diantaranya nenotheisme, panteisme, monism, monotheisme, politheisme, bahkan atheism.namun konsep ketuhannan yang paling benyak digunakan adalah monotheisme (terutama dalam Weda, agama Hindu Dharma, dan Adwaita wedanta). Pantheisme suatu ajaran yang berasal dari kitab ajaran agama Hindu yakni Upanishad. Dalam konsep ini menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu amupun tempat tinggal tertentu, melaikan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat pada setiap benda apapun. Sedangkan Atheisme terdapat alam ajaran Seramkhya yang dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan, melainkan adanya pertemuan antara Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namuntidak memiliki penyebab.

Budha (567 SM)
Ajaran Budha ini dibawa oleh Sidarta Gautama. Dia maelakukan pertapaan di bawah pohon Bodhi, lalu kemudian dinamakanlah ajaran ini sebagai Budha. Sejarahnya pada abad ke-3 sebelum  seorang raja India yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk ajaran Buddha. Berkat dukungannya, penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini ajaran Budha menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.Penyebaran juga bertiup ke utara (Tibet, Afghanistan, & Asia Tengah), terus merambah Cina & menyeberang ke Jepang dan Korea.Sedangkan di India sendiri ajaran Budha menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi, malah nyaris punah pada ca1200. Sebaliknya di Cina & di Jepang, ajaran Buddha tetap bertahan sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara, agama itu mengalami masa jayanya berabad-abad.
Ajaran Budha ini adalah suatu ajaran yang bertolak belakang dengan ajaran agama Hindu. Ajaran Budha ini erat kaitannya dengan filosofi Upanishad. Budha bias dibilang bukan agama melainkan suatu ajaran yang bersifat filosofis. Doktrin  yang terpanting pada ajaran ini adalah adanya Reinkarnasi manusia. Reinkarnasi adalah kembalinya manusia tersebut ke bumi setelah dia mati. Pada reinkarnasi ini, manusia dapat kembali hidup, dan menjadi manusia kembali dengan kehidupan yang berbeda, bahkan ada manusia yang menjadi makhluk hidup yang lain, contohnya hewan.
Ajaran Budha mengajarkan bahwa dunia itu hanyalah ilusi spiritual, tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. Jalan tengah akan membimbing pada siklus kelahiran kembali dan menyatu dalam dunia universal (nirwana). Nirwana bukan berarti penghancuran jiwa dalam arti ruh, tapi hanya penghancuran ilusi yang terpisah, dengan pemikiran bahwa: kita hidup manunggal dalam kehidupan. Berbeda dengan Hindu ajaran budha menolak adanya kasta. Menurut ajaran Budha semua orang derajatnya sama di mata sang Budha.
Ada empat kebajikan yang diajarkan dalam ajaran Budha, diantaranya:
        kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia
        sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu
        pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana
        menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar.
Ajaran Budha bisa dipelajari oleh siapa saja, hal ini dikarenakan dalam ajaran Budha tak mengenal akan adanya kasta. Tak peduli dari ras manapun dan dari bangsa manapun dia, tetap diperbolehkan mempelajari agama ini.

Kamis, 05 September 2013

Rinduku Kunang-kunang



Aku teringat seekor kunang-kunang
Kunang kunang yang dulu membuat malamku bercahya
Kunang-kunang kecil itu menyapa dan menghampiriku
Bertanya “apa kabarmu ?”
Yah…hanya itu
Ku jawab, malam ini aku baik-baik saja
Karena kau kunang
Kau menerangi malamku
Dan Membebaskan ku dari ketakutan dan  gelapnya malam
Kunang-kunang itu hanya tersenyum mendengar jawabanku

Malam-malam bersama kunang-kunang selalu ku nantikan
Namun entah mengapa, malam-malam itu tak hadir kembali
Kunang-kunang itu telah pergi
Atau terbiaskan oleh lampu-lampu yang lebih terang benderang
Atau kah pergi ke langit
Menari bersama bintang-bintang
Melupakan aku di sini
Yah… di sini, di sini aku merindukannya
Makhluk kecil yang selalu membawa lampu kemanapun ia pergi

Kemanakah dia?.

Makhluk kecil  yang membuat kecerianku dimalam hari
Yang membuang rasa takutku menghadapi malam
Yang membuat ku tersenyum di malam hari
Kunang-kunang ku mohon kembali
Terangi malam ku lagi


                                                           
                                                                                    Jatinangor, 7 November 2011

SEJARAH LISAN DI INDONESIA DAN KAJIAN SUBJEKTIVITAS “Sejarawan Bukanlah Introgator ataupun Reporter”



Penulisan sejarah kontemporer bagi kalangan sejarawan sedang sekarang ini sedang hangat-hangatnya. Pelurusan sejarah dimasa kontemporer menjadi hal yang dilematik bagi sejarawan. Sejarawan sendiri dituntut untuk tidak mengedepankan kembali sejarah dari sisi kaca mata orang-orang besar. Sejarah kontemporer yang masih menjadi tanda tanya yang besar yaitu mengenai Sejarah PKI , penumpasan gerakan 30 september.
Penulisan sejarah kontemporer ini lumayan sulit. Hal ii dikarenakan sumber-sumber yang ada pada masa itu jarang ditemukan. Untuk mengatasi kekeringan sumber tersebut, sejarawan harus menggunakan metode lain dalam penulisan sejarah. Sejarah lisan, itu mungkin dapat mengatasi kekeringan sumber bagi sejarawan yang sedang menulis tentang sejarah kontemporer.
Namun yang harus diperhatikan dalam penulisan sejarah lisan disini yaitu unsur subjektivitas sumber yang begitu kental. Sejarah lisan bukanlah sekedar wawancara seseorang seperti biasanya, bukan juga pengintrogasian sumber sejarah lisan tersebut. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan bagi sejarawan yang ingin melakukan sejarah lisan diantaranya : sejarawan harus bersikap kritis dalam melakukan pewawancaraan, hal ini dilakukan guna menyortir mana yang subjektif, dan yang objektif. Memang benar sulit sekali memisahkan antara subjektif dan objektif, karena tak ada yang objektif kecuali peristiwa itu sendiri. Setidaknya sejarawan harus mengkritik sebelum maupun sesudah wawancara lisan dilakukan. Pengkritikan sebelum wawancara lisan dilakukan dengan kritik internal, yaitu apakah si sumber lisan mau dan mampu tidak untuk melakukan wawancara. Mau disini berarti apakah si sumber lisan ini mau memaparkan kebenaran, memberikan kesakasian tentang kebenaran itu. Misalnya saja, pada saat melakukan wawancara mengenai peristiwa Gerakan 30 september, apakah si saksi mau memaparkan kejadian tersebut, disini si saksi akan berusaha menyimpan sebagian fakta-fakta yang dia alami. Mungkin saja karena ketakutan mereka. Mampu, mampu disini berarti apakah saksi dari peristiwa itu hadir pada saat peristiwa itu terjadi, apakah saksi dekat dengan peristiwa itu, dan apakah keahlian saksi itu. Pengkritikan setelah melakukan wawancara dengan sumber lisan yaitu dengan mengkoroborasi hasil wawancara dengan sumber-sumber lainnya.
Faktor yang penting lainnya, ketika melakukan wawancara lisan adalah psikologi dari si sumber lisan. Faktor ini sangat lah penting, dikarenakan dari faktor ini si pewawancara mau tidak melakukan wawancara. Mungkin saja ada kejadian dimasa lalu itu yang tidak ingin dia paparkan karena hal tersebut merupakan aib bagi dirinya. Selain itu mengkin saja ada ketakutan dari si sumber, apabila si sumber memaparkan semua kejadiannya, si sumber takut nantinya dia ditangkap oleh pihak yag berwajib. Nah…ini yang perlu di garis bawahi oleh sejarawan, sejarawan bukanlah seorang introgator, sejarawan hanya melakukan wawancara terhadap si sumber, bukan untuk menyalahi si sumber, atau menghakimi si sumber. Biarkanlah si sumber menceritakan kejadian yang dia alami. Sejarawan jangan sekali-sekali memotong pembicaraan si sumber  lisan, dan jangan juga menyalahkan pernyataan dari dia. Bisa jadi, apabila sejarawan menyangah pernyataan dari si sumber, dia tidak akan memaparkan yang lebih banyak lagi kejadian yang dialaminya. Anggaplah diri kita adalah seseorang yang tidak mengetaui seluk beluk peristiwa tersebut. Dalam hal ini, Sejarawan harus menjadi pendengar yang baik, pendengar yang antusias untuk mendengarkan apa yang dipaparkan. Buatlah nyaman si sumber lisan sehingga dia tidak canggung memaparkan semuanya, bahkan hal-hal yang rahasia sekali pun.
Penulisan sejarah kontemporer Indonesia dangan menggunakan metode sejarah lisan ini cukuplah efektif. Hal ini dikarenakan, suber yang ada merupakan sumber yang hidup, sumber hidup ini dapat memaparkan semua kejadian yang dialaminya apabial si sejarawan mampu membaca situasi dan psikis dari sumber tersebut. Mungkin kendala yang akan banyak dilalami oleh sejarawan dalam melakulkan wawancara adalah ketidakterusterangan dari sumber. Jadi sejarawan disini harus pintar mendekati sumber, mebuat nyaman  sumber, sehingga dia mau memaparkan kebenaran tersebut. Dan sekali lagi sejarawan itu bakunlah introgator, yang menyalahkan pernyataan si sumber. Dan bukan pula seorang reporter ataupun seorang wartawan.