"Seribu Kebaikan Untukmu" buku yang ku nanti-nanti. Buku ini berisikan Tentang 21 kisah penggugah rasa syukur. Hasil karya Penulis muda dari latar belakang pendidikan yang berbeda memberikan warna-warni cerita di dalamnya. Penulis-penulis muda yang mengisi tulisan di buku ini akan mengantarkan pembaca untuk melihat lebih dekat orang-orang di sekitar kita yang merupakan kaum minoritas. Semoga "Seribu Kebaikan ini" memberikan seribu hikmah bagi para pembacanya.
Senin, 09 September 2013
Jumat, 06 September 2013
Agama dan Filsafat di India
Agama
yang pertama dan yang tertua di dunia yaitu Hindu. Agama ini merupakan
lanjutan dari kepercayan Indo Arya Weda
(Brahmanisme). Pengetahuan mengenai
kepercayaan Indo Arya berasal dari kitab-kitab veda yang berisi nyanyian
pujian yang diturunkan dalam tiga bentuk perubahan, yaitu Reg-Veda, Sama-Veda,
Yajur-Veda. Reg-Veda terdiri dari 1028 lagu pujianmerupakan bentuk yang paling
tua. Buku tersebut berisi pemujaan terhadap dewa-dewa. Sama-Veda terdiri dari
ayat-ayatyang terdapat dalam Reg-Veda. Sama-Veda diatur dalam bentuk suatu
Himne utuk dipergunakan oleh para Udagantri atau para penyayi lagu-lagu pujaan,
berbeda dengan dengan Yajur-Veda. Yajur-Veda berbentuk prosa, merupakan doa-doa
yang diucapkan oleh para pendeta yang melakukan pujaan. selainitu ada juga
Artharva Vedayang berbeda fungsi dan berisi lagu pujian yang indah. Pada
pokoknya Artharva Veda ini berisikan mantra-mantra dan rumus-rumus magis. Nyanyian-nyanyian
pujaan tersebut diturunkan secara turun temurun atau Oral History. Namun
pengecualin bagi orang-orang Sudra.
Bangsa-bangsa
Indo-Arya itu mendiami kawasan disebelah timur sungi Indus,
diantara sungai-sungai Suttejdan Yamuna. Daerah itu kemudian lebih dikenal
sebagai Brahmanavatara atau Aryavatara yang memiliki arti tempat-tempat kaum
Brahma dan orang-orang Arya tinggal. Mereka adalah pengembara yang mempunyai
kemampuan bersyair tinggi, meskipun mereka tidak mengenal budaya bahasa tulis.
Kesusastraan mereka dapat dibagi menjadi beberapa periode, yaitu periode Veda,
Brahmana dan upanisad. Kesusastraan lisan ini merupakan bentuk transisi
kebudayaan zaman prasejarah ke zaman sejarah.
Selain
kitab-kitab yang berisi syair dan pujian-pujian, ada juga cerita-cerita
kepahlawanan yang memuat ajaran–ajaran Hindu.cerita-cerita itu disebut epos
(wiracarita). Epos yang terkenal dalam kesusastraan India yaitu Mahabarata dan
Ramayana. Mahabarata menceritakan tetang keluarga besar bharata yang disusun
dalam bentuk Syair yang panjang, dan berkembang menjadi 100.000 bait. Sedangkan
Ramayana menceritakan kepahlawanan Rama dan Sinta, istrinya ketika harus
melawan keangkaramurkaan Ravana, raja raksasa.
Konsep
ketuhanan masyarakat Hindu adalah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun ajaran
Hindu seringkali dianggap sebagai ajaran politheisme. Dalam salah satu ajaran
filsafat Hindu adwaita wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan
menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman) yang memanifestasikan dirinya
kepada manusia dalam berbagai bentuk.
Dalam
agama Hindu ada lima
keyakinan kepercayaan, yaitu :
1. Widhi
Tattawa : percaya kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya.
2. Atma
Tattawa : percaya dengan
adanya jiwa dalam setiap makhluk.
3. Karmaphala
Tattawa : percaya dengan adanya hokum
sebab akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhawa
Tattawa : percaya dengan adanya proses
kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksa
Tattawa : percaya bahwa
kebahagian tertinggi merupakan tujuan akhir manusi.
Antara Vedanta dan Samkya
Vedanta dan Samkya adalah nama-nama
filsafat dan pandangan hidup orang-orang Indo-Arya. Keduanya mempunyai
kebebasanyang mendasar dalam memandang hakikat hidup tepatnya megenai ruh
kehidupan. Pandangan filsafat Samkya merupakan reaksi dan koreksi terhadap
pandangan filsafat wedanta yang dianggap tidak tepat. Masa pengembangan
filsafat Wedanta berlangsung di antara 800 hingga 600SM, yaiyu ketika para
pemikir arya merasa tidak puas terhadap perkembangan pemikiran filsafat agama
pada saat itu secara mendalam.
Adapun ajaran-ajaran
filsafat lainnya, yaitu Upanishad. Upanishad berasal dari kata-kata
Upa-nir-shad yang berarti duduk bersimpuhdi dekat sang guru, karena
mengharapkan pengetahuan tentang hakikat hidup. Inti dari ajaran ini adalah
Moksha atau Mukti (keadaan tanpa kekangan), yang kedua ialah kepercayaan akan
jiwa dunia, yang disebut Atman (asal dari seluruh jiwa perorangan, dan
merupakan tempat segala ruh perorangankembali dan menyatu dengannya. Ajaran
filsafah ini lebih menekankan kepada upaya pembebasan diri dari kesengsaraan
hidup dengan cara pemehaman atau pengetahuan mengenai hakikat hidup daripada
sekedar mantra-mantra maupun pengorbanan. Etika Upanishad dengan demikian
sangat Pragmatis karena beranggapan bahwa kebenaran maupun kejelekan itu larut
dalam serapan Brahman atau jiwa perorangan.
Konsep ketuhanan
Agama
Hindu merupakan agama yang tertua di di Dunia. Meliahat reantang sejarahnya
yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham
ketuhanan yang pernah ada di dunia. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para
sarjana mengenai akaran agama Hindu. Menurut mereka gama Hindu memiliki
beberapa konsep ketuhanan, diantaranya nenotheisme, panteisme, monism,
monotheisme, politheisme, bahkan atheism.namun konsep ketuhannan yang paling
benyak digunakan adalah monotheisme (terutama dalam Weda, agama Hindu Dharma,
dan Adwaita wedanta). Pantheisme suatu ajaran yang berasal dari kitab ajaran
agama Hindu yakni Upanishad. Dalam konsep ini menyatakan bahwa Tuhan tidak
memiliki wujud tertentu amupun tempat tinggal tertentu, melaikan Tuhan berada
dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat pada setiap benda apapun.
Sedangkan Atheisme terdapat alam ajaran Seramkhya yang dianggap tidak pernah
membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan,
melainkan adanya pertemuan antara Purusha dan Prakirti, asal mula segala
sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namuntidak memiliki penyebab.
Budha (567 SM)
Ajaran
Budha ini dibawa oleh Sidarta Gautama. Dia maelakukan pertapaan di bawah pohon
Bodhi, lalu kemudian dinamakanlah ajaran ini sebagai Budha. Sejarahnya pada
abad ke-3 sebelum seorang raja India yang
besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk ajaran Buddha. Berkat dukungannya,
penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini
ajaran Budha menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.Penyebaran
juga bertiup ke utara (Tibet, Afghanistan, & Asia Tengah), terus merambah
Cina & menyeberang ke Jepang dan Korea.Sedangkan di India sendiri ajaran
Budha menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi, malah nyaris punah
pada ca1200. Sebaliknya di Cina & di Jepang, ajaran Buddha tetap bertahan
sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara, agama itu
mengalami masa jayanya berabad-abad.
Ajaran
Budha ini adalah suatu ajaran yang bertolak belakang dengan ajaran agama Hindu.
Ajaran Budha ini erat kaitannya dengan filosofi Upanishad. Budha bias dibilang
bukan agama melainkan suatu ajaran yang bersifat filosofis. Doktrin yang terpanting pada ajaran ini adalah adanya
Reinkarnasi manusia. Reinkarnasi adalah kembalinya manusia tersebut ke bumi
setelah dia mati. Pada reinkarnasi ini, manusia dapat kembali hidup, dan
menjadi manusia kembali dengan kehidupan yang berbeda, bahkan ada manusia yang
menjadi makhluk hidup yang lain, contohnya hewan.
Ajaran
Budha mengajarkan bahwa dunia itu hanyalah ilusi spiritual, tidak ada yang
kekal dan abadi di dunia ini. Jalan tengah akan membimbing pada siklus
kelahiran kembali dan menyatu dalam dunia universal (nirwana). Nirwana bukan
berarti penghancuran jiwa dalam arti ruh, tapi hanya penghancuran ilusi yang
terpisah, dengan pemikiran bahwa: kita hidup manunggal dalam kehidupan. Berbeda
dengan Hindu ajaran budha menolak adanya kasta. Menurut ajaran Budha semua
orang derajatnya sama di mata sang Budha.
Ada empat
kebajikan yang diajarkan dalam ajaran Budha, diantaranya:
kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak
bahagia
sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah
memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu
pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu
dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam
ajaran Buddha disebut nirvana
menimbang benar, berpikir benar, berbicara
benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar,
meditasi benar.
Ajaran
Budha bisa dipelajari oleh siapa saja, hal ini dikarenakan dalam ajaran Budha
tak mengenal akan adanya kasta. Tak peduli dari ras manapun dan dari bangsa
manapun dia, tetap diperbolehkan mempelajari agama ini.
Kamis, 05 September 2013
Rinduku Kunang-kunang
Aku teringat seekor kunang-kunang
Kunang kunang yang dulu membuat malamku bercahya
Kunang-kunang kecil itu menyapa dan menghampiriku
Bertanya “apa kabarmu ?”
Yah…hanya itu
Ku jawab, malam ini aku baik-baik saja
Karena kau kunang
Kau menerangi malamku
Dan Membebaskan ku dari ketakutan dan gelapnya malam
Kunang-kunang itu hanya tersenyum mendengar jawabanku
Malam-malam bersama kunang-kunang selalu ku nantikan
Namun entah mengapa, malam-malam itu tak hadir kembali
Kunang-kunang itu telah pergi
Atau terbiaskan oleh lampu-lampu yang lebih terang benderang
Atau kah pergi ke langit
Menari bersama bintang-bintang
Melupakan aku di sini
Yah… di sini, di sini aku merindukannya
Makhluk kecil yang selalu membawa lampu kemanapun ia pergi
Kemanakah dia?.
Makhluk kecil yang
membuat kecerianku dimalam hari
Yang membuang rasa takutku menghadapi malam
Yang membuat ku tersenyum di malam hari
Kunang-kunang ku mohon kembali
Terangi malam ku lagi
Jatinangor,
7 November 2011
SEJARAH LISAN DI INDONESIA DAN KAJIAN SUBJEKTIVITAS “Sejarawan Bukanlah Introgator ataupun Reporter”
Penulisan
sejarah kontemporer bagi kalangan sejarawan sedang sekarang ini sedang
hangat-hangatnya. Pelurusan sejarah dimasa kontemporer menjadi hal yang
dilematik bagi sejarawan. Sejarawan sendiri dituntut untuk tidak mengedepankan
kembali sejarah dari sisi kaca mata orang-orang besar. Sejarah kontemporer yang
masih menjadi tanda tanya yang besar yaitu mengenai Sejarah PKI , penumpasan
gerakan 30 september.
Penulisan
sejarah kontemporer ini lumayan sulit. Hal ii dikarenakan sumber-sumber yang
ada pada masa itu jarang ditemukan. Untuk mengatasi kekeringan sumber tersebut,
sejarawan harus menggunakan metode lain dalam penulisan sejarah. Sejarah lisan,
itu mungkin dapat mengatasi kekeringan sumber bagi sejarawan yang sedang
menulis tentang sejarah kontemporer.
Namun
yang harus diperhatikan dalam penulisan sejarah lisan disini yaitu unsur
subjektivitas sumber yang begitu kental. Sejarah lisan bukanlah sekedar
wawancara seseorang seperti biasanya, bukan juga pengintrogasian sumber sejarah
lisan tersebut. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan bagi sejarawan yang
ingin melakukan sejarah lisan diantaranya : sejarawan harus bersikap kritis
dalam melakukan pewawancaraan, hal ini dilakukan guna menyortir mana yang
subjektif, dan yang objektif. Memang benar sulit sekali memisahkan antara
subjektif dan objektif, karena tak ada yang objektif kecuali peristiwa itu
sendiri. Setidaknya sejarawan harus mengkritik sebelum maupun sesudah wawancara
lisan dilakukan. Pengkritikan sebelum wawancara lisan dilakukan dengan kritik
internal, yaitu apakah si sumber lisan mau dan mampu tidak untuk melakukan
wawancara. Mau disini berarti apakah si sumber lisan ini mau memaparkan
kebenaran, memberikan kesakasian tentang kebenaran itu. Misalnya saja, pada
saat melakukan wawancara mengenai peristiwa Gerakan 30 september, apakah si
saksi mau memaparkan kejadian tersebut, disini si saksi akan berusaha menyimpan
sebagian fakta-fakta yang dia alami. Mungkin saja karena ketakutan mereka.
Mampu, mampu disini berarti apakah saksi dari peristiwa itu hadir pada saat
peristiwa itu terjadi, apakah saksi dekat dengan peristiwa itu, dan apakah keahlian
saksi itu. Pengkritikan setelah melakukan wawancara dengan sumber lisan yaitu
dengan mengkoroborasi hasil wawancara dengan sumber-sumber lainnya.
Faktor
yang penting lainnya, ketika melakukan wawancara lisan adalah psikologi dari si
sumber lisan. Faktor ini sangat lah penting, dikarenakan dari faktor ini si
pewawancara mau tidak melakukan wawancara. Mungkin saja ada kejadian dimasa
lalu itu yang tidak ingin dia paparkan karena hal tersebut merupakan aib bagi
dirinya. Selain itu mengkin saja ada ketakutan dari si sumber, apabila si
sumber memaparkan semua kejadiannya, si sumber takut nantinya dia ditangkap
oleh pihak yag berwajib. Nah…ini yang perlu di garis bawahi oleh sejarawan,
sejarawan bukanlah seorang introgator, sejarawan hanya melakukan wawancara
terhadap si sumber, bukan untuk menyalahi si sumber, atau menghakimi si sumber.
Biarkanlah si sumber menceritakan kejadian yang dia alami. Sejarawan jangan
sekali-sekali memotong pembicaraan si sumber
lisan, dan jangan juga menyalahkan pernyataan dari dia. Bisa jadi,
apabila sejarawan menyangah pernyataan dari si sumber, dia tidak akan
memaparkan yang lebih banyak lagi kejadian yang dialaminya. Anggaplah diri kita
adalah seseorang yang tidak mengetaui seluk beluk peristiwa tersebut. Dalam hal
ini, Sejarawan harus menjadi pendengar yang baik, pendengar yang antusias untuk
mendengarkan apa yang dipaparkan. Buatlah nyaman si sumber lisan sehingga dia
tidak canggung memaparkan semuanya, bahkan hal-hal yang rahasia sekali pun.
Penulisan
sejarah kontemporer Indonesia
dangan menggunakan metode sejarah lisan ini cukuplah efektif. Hal ini
dikarenakan, suber yang ada merupakan sumber yang hidup, sumber hidup ini dapat
memaparkan semua kejadian yang dialaminya apabial si sejarawan mampu membaca
situasi dan psikis dari sumber tersebut. Mungkin kendala yang akan banyak
dilalami oleh sejarawan dalam melakulkan wawancara adalah ketidakterusterangan
dari sumber. Jadi sejarawan disini harus pintar mendekati sumber, mebuat nyaman
sumber, sehingga dia mau memaparkan
kebenaran tersebut. Dan sekali lagi sejarawan itu bakunlah introgator, yang
menyalahkan pernyataan si sumber. Dan bukan pula seorang reporter ataupun
seorang wartawan.
Langganan:
Postingan (Atom)
