Kamis, 05 September 2013

SEJARAH LISAN DI INDONESIA DAN KAJIAN SUBJEKTIVITAS “Sejarawan Bukanlah Introgator ataupun Reporter”



Penulisan sejarah kontemporer bagi kalangan sejarawan sedang sekarang ini sedang hangat-hangatnya. Pelurusan sejarah dimasa kontemporer menjadi hal yang dilematik bagi sejarawan. Sejarawan sendiri dituntut untuk tidak mengedepankan kembali sejarah dari sisi kaca mata orang-orang besar. Sejarah kontemporer yang masih menjadi tanda tanya yang besar yaitu mengenai Sejarah PKI , penumpasan gerakan 30 september.
Penulisan sejarah kontemporer ini lumayan sulit. Hal ii dikarenakan sumber-sumber yang ada pada masa itu jarang ditemukan. Untuk mengatasi kekeringan sumber tersebut, sejarawan harus menggunakan metode lain dalam penulisan sejarah. Sejarah lisan, itu mungkin dapat mengatasi kekeringan sumber bagi sejarawan yang sedang menulis tentang sejarah kontemporer.
Namun yang harus diperhatikan dalam penulisan sejarah lisan disini yaitu unsur subjektivitas sumber yang begitu kental. Sejarah lisan bukanlah sekedar wawancara seseorang seperti biasanya, bukan juga pengintrogasian sumber sejarah lisan tersebut. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan bagi sejarawan yang ingin melakukan sejarah lisan diantaranya : sejarawan harus bersikap kritis dalam melakukan pewawancaraan, hal ini dilakukan guna menyortir mana yang subjektif, dan yang objektif. Memang benar sulit sekali memisahkan antara subjektif dan objektif, karena tak ada yang objektif kecuali peristiwa itu sendiri. Setidaknya sejarawan harus mengkritik sebelum maupun sesudah wawancara lisan dilakukan. Pengkritikan sebelum wawancara lisan dilakukan dengan kritik internal, yaitu apakah si sumber lisan mau dan mampu tidak untuk melakukan wawancara. Mau disini berarti apakah si sumber lisan ini mau memaparkan kebenaran, memberikan kesakasian tentang kebenaran itu. Misalnya saja, pada saat melakukan wawancara mengenai peristiwa Gerakan 30 september, apakah si saksi mau memaparkan kejadian tersebut, disini si saksi akan berusaha menyimpan sebagian fakta-fakta yang dia alami. Mungkin saja karena ketakutan mereka. Mampu, mampu disini berarti apakah saksi dari peristiwa itu hadir pada saat peristiwa itu terjadi, apakah saksi dekat dengan peristiwa itu, dan apakah keahlian saksi itu. Pengkritikan setelah melakukan wawancara dengan sumber lisan yaitu dengan mengkoroborasi hasil wawancara dengan sumber-sumber lainnya.
Faktor yang penting lainnya, ketika melakukan wawancara lisan adalah psikologi dari si sumber lisan. Faktor ini sangat lah penting, dikarenakan dari faktor ini si pewawancara mau tidak melakukan wawancara. Mungkin saja ada kejadian dimasa lalu itu yang tidak ingin dia paparkan karena hal tersebut merupakan aib bagi dirinya. Selain itu mengkin saja ada ketakutan dari si sumber, apabila si sumber memaparkan semua kejadiannya, si sumber takut nantinya dia ditangkap oleh pihak yag berwajib. Nah…ini yang perlu di garis bawahi oleh sejarawan, sejarawan bukanlah seorang introgator, sejarawan hanya melakukan wawancara terhadap si sumber, bukan untuk menyalahi si sumber, atau menghakimi si sumber. Biarkanlah si sumber menceritakan kejadian yang dia alami. Sejarawan jangan sekali-sekali memotong pembicaraan si sumber  lisan, dan jangan juga menyalahkan pernyataan dari dia. Bisa jadi, apabila sejarawan menyangah pernyataan dari si sumber, dia tidak akan memaparkan yang lebih banyak lagi kejadian yang dialaminya. Anggaplah diri kita adalah seseorang yang tidak mengetaui seluk beluk peristiwa tersebut. Dalam hal ini, Sejarawan harus menjadi pendengar yang baik, pendengar yang antusias untuk mendengarkan apa yang dipaparkan. Buatlah nyaman si sumber lisan sehingga dia tidak canggung memaparkan semuanya, bahkan hal-hal yang rahasia sekali pun.
Penulisan sejarah kontemporer Indonesia dangan menggunakan metode sejarah lisan ini cukuplah efektif. Hal ini dikarenakan, suber yang ada merupakan sumber yang hidup, sumber hidup ini dapat memaparkan semua kejadian yang dialaminya apabial si sejarawan mampu membaca situasi dan psikis dari sumber tersebut. Mungkin kendala yang akan banyak dilalami oleh sejarawan dalam melakulkan wawancara adalah ketidakterusterangan dari sumber. Jadi sejarawan disini harus pintar mendekati sumber, mebuat nyaman  sumber, sehingga dia mau memaparkan kebenaran tersebut. Dan sekali lagi sejarawan itu bakunlah introgator, yang menyalahkan pernyataan si sumber. Dan bukan pula seorang reporter ataupun seorang wartawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar