Karantina Haji Zaman Kolonial Belanda di
Pulau Onrust
Hubungan antara Timur Tengah dengan Indonesia sudah
terjalin sejak lama, bahkan sebelum Islam lahir di tanah jajirah Arab, Hubungan
antara timur tengah dan Nusantara sudah terjalin. Namun Hubungan tersebut hanya
sebatas perdagangan saja. Menurut sejarawan Hamka menyatakan bahwa agama Islam
baru masuk ke Nusantara pada abad ke-7 (ini teori baru, teori sebelumnya Islam
masuk ke Nusantara pada abad ke-13). Pernyataan Hamka ini perkuat dengan fakta
sejarah yang mengemukakan bahwa dalam pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Arab
yang ditulis oleh T.W. Arnold sejak abad ke-2
sebelum masehi sudah menguasai Ceylon .
Pendangan yang serupa juga disampaikan oleh Abdullah bin Nuh dan Dr.Shahab
dalam “Seminar Masuknya Agama Islam ke Indonesia ”. Kedua pendapat
pembanding ini mengutip pendapat Cooke, bahwa sejak abad ke -2 SM pengaruh Arab
sangat luas sekali dalam bidang perdagangan hingga Ceylon, selanjutnya kedua
pembanding menambahkan keterangan Dr.Fuad Hasanain Ali yang menyatakan”…negara
ini pada masa dahulu kala memainkan peranan penting dalam perdagangan dunia
lama. Teristimewa antara negara-negara sekitar Samudera Hindia dan Laut Tengah.
Informasi
tersebebut menjelaskan bahwa bangsa Arab telah sampai Cylon pada abad ke -2 SM.
Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke Indonesia .
Tetapi kita hubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang menyebutkan
Al-Hind adalah India atau pulau-pulau sebelah Timurnya sampai
ke Cina, besar kemungkinan pada abad ke-2 SM bangsa arab telah sampai ke Indonesia .
Hanya saja penyebutannya sebagi pulau-pulau Cina atau Al-Hind. Jika benar telah
ada hubungan antara bangsa arab dengan Indonesia sejak abad ke-2 SM, maka
bangsa Arab merupakan bangsa asing pertama yang datang ke Nusantara. Menurut
keterangan D.H. Burger dan Prajurit Atmosudirdjo, bangsa India dan Cina baru
mengadakan hubungan dwenagn Indonesia pada abad ke-1 M, sedangkan Hubungan Arab
dengan Cina terjadi jauh lebih lama, melalui jalan darat yang biasa disebut Jalan
Sutra.
Dengan
diketahuinya fakta ini, tidaklah mengherankan bila pada 674 M telah terdapat
perkampungan pedagang Arab Islam di pantai Barat Sumatra, bersumber dari berita
Cina. Setelah Islam, ajaran-ajaranya pun masuk ke ranah masyarakat Indonesia .
Salah satu diantaranya adalah Haji. Haji
merupakan salah satu rukun Islam yang kelima. Wajib dilaksanakan bagi umat
muslim yang sudah mampu. Karena kewajiban inilah,ada sebagian dari umat muslim
di nusantara yang melaksanakannya.
Haji
pada masa Kolonial Belanda diawasi sangat ketat. Hal ini dikarenakan pihak
colonial khawatir akan adanya pemikiran-pemikiran yang menentang Belanda yang
dibawa akibat dari perjalanan haii ini. Oleh karena itu ada tempat
pengkarantinaan orang-orang yang ingin pergi haji.
Pulai
Onrust Pulau Onrust merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta yang letaknya
berdekatan dengan Pulau Bidadari. Pada masa kolonial Belanda, rakyat sekitar
menyebut pulau ini adalah Pulau Kapal karena di pulau ini sering sekali
dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju Batavia . Di dalam pulau ini terdapat banyak
peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan juga sebuah rumah yang
masih utuh dan dijadikan Museum Pulau Onrust. Nama ‘Onrust’ diambil dari bahasa
Belanda yg artinya ‘Tidak Pernah Beristirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya
‘Unrest’.
Sejak
penjajahan bangsa Belanda di Indonesia, Pulau Onrust menjadi pulau yang sangat
strategis sekaligus sangat sibuk. Onrust yang memiliki nama lain sebagai Pulau
Kapal memang senantiasa sibuk disinggahi kapal-kapal VOC. Selain itu Pulau
Onrust menjadi markas Belanda yang penting untuk menyerang daratan Jakarta .
Seiring berkurangnya pengarush Inggris di Hindia Belanda, pada tahun 1848, Belanda masuk kembali ke Pulau ini dan difungsikan sebagai Pangakalan Angkatan Laut. Namun pada tahun 1883, sarana prasarana yang telah dibangun oleh belanda kembali hancur berat akibat gelombang Tidal letusan gunungKrakatau .
Pada tahun 1911 s.d. 1933, Pulau Onrust diubah fungsinya sebagai Karantiana
Haji. Masyarakat Indonesia
pada saat itu yang akan naik haji ke Mekah dikarantina terlebih dahulu di pulau
ini baik ketika pergi maupun sepulangnya. Hal ini merupakan taktik dari Belanda
untuk menekan pengaruh ulama-ulama pada masa itu. Belanda tahu bahwa
pergoalakan/pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia pada saat itu karena
dipengaruhi oleh besarnya kharismatik ulama di mata rakyatnya.
Seiring berkurangnya pengarush Inggris di Hindia Belanda, pada tahun 1848, Belanda masuk kembali ke Pulau ini dan difungsikan sebagai Pangakalan Angkatan Laut. Namun pada tahun 1883, sarana prasarana yang telah dibangun oleh belanda kembali hancur berat akibat gelombang Tidal letusan gunung
Perjalanan
Haji ke tanah suci mekah ini merupakan sarana dimana masyarakat muslim di dunia
berkumpul. Karena demikianlah kolonial Belanda sangat takut sekali para jemaah
haji yang pualng dari tanah suci ini mendapat pemikiran-pemikiran baru yang ia
dapat dari perjlalan suci ini. Pemikiran-pemikiran ini bisa saja dapat
membahayakan eksistensi Kolonial Belanda di Indonesia. Pemikiran-pemikiran
tersebut seperti di dalam Islam penjajahan tidak diperbolehkan. Semua manusia
khususnya kaum muslimin berhak mendapatkan kemerdekaan. Pemikiran yang lebih
ekstrim lagi adalah pemikiran tentang orang-orang yang memerangi umat Islam atau
di sebut dengan orang-orang kafir dihalalalkan darahnya untuk dibunuh. Karena
pemikiran-pemikiran tersebutlah, membuat pihak Kolonial Belanda merasa was-was
apabila ada rakyat Indonesia
yang akan dan telah datang dari perjalanan hajinya, sehingga penyelenggaraan
haji pada zaman kolonial Belanda sangat diawasi sekali.
Selain
itu motivasi Belanda datang ke Indonesia
bukan hanya mencari rampah-raempah dan kekayaan lainnya di nusantara. Melainkan
Belanda Juga mempunyai misi zending
yaitu misi pengkristenisasian orang-orang di Nusantara. Belanda takut apabila ulama-ulama
yang datang dari perjalanan hajinya memperoleh ilmu yang lebih dari sana . Satu lagi Belanda
takut akan misi dakwah yang ulama-ulama bawa membuat misi zending mereka gagal. Dalam agama Islam, setiap muslim berkewajiban
untuk meyebarkan luaskan agama Islam
atau berdakwah. Nah…dengan semangat dakwah inilah yang ditakutkan oleh pihak
Belanda.
Daftar Sumber
Suryanegara, Ahmad Mansur. 1995.
Menemukan
Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung : Mizan








