SASTRA DAN NASIONALISME
Kebanyakan
orang, khususnya masyarakat awam mengangap karya sastra adalah suatu karya yang
bernilai seni. Sastra juga identik dengan puisi, novel, cerpen, dan lain sebgainya.
Sastra juga bsa dikatakan seni seseorang dalam mengolah kata. Sastra digunakan hanya
sebagai hiburan dan hanya dinikmai oleh
segelintir orang yang memahami karya sastra tersebut. Karya sastra yang banyak
dijumpai berkisar tentang romantisme seseorang yang sedang jatuh cinta.
Coretan-coretan karya sastra itu merupakan ungkapan dan gambaran perasaan
seseorang yang sedang ia rasakan, pikirkan. Kadang kalanya ada juga karya
sastra yang menggambarkan kondisi sosial
masyarakat yang terjadi pada sang penulis.
Karya-karya
sastra tersebut mengandung nilai-nilai moral yang terungkap secara tersirat.
Nilai-nilai moral tersebut dapat diambil sebagai ibrah atau hikmah bagi pembaca. Ibrah atau hikmah yang terkandung
di dalam karya satra tersebut merupakan suatu pengalaman yang disampaikan dari
sang penulis dengan maksud agar sang pembaca dapat mengambil hikmah tersebut
dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Mungkin
banyak di antara kita yang masih belum mengetahui ada karya-karya sastra
yang mengandung nilai-nilai nasionalisme. Contohnya, kisah Siti Nurbaya dan
Datuk Maringih. Sebenarnya di dalam cerita tersebut terkandung makna-makna
nasionalisme, akan tetapi kebanyakan orang hanya menangkap isi cerita si Siti Nurbaya yang nikahkan secara paksa oleh Datuk Maringgih. Kalau sang pembaca
cerita ini memahami benar kisah Siti Nurbaya ini, pembaca dapat menyimpulkan
bahwa si Datuk Maringgih lah yang menjadi tokoh sentral dalam menanamkan
nilai-nilai nasionalisme tersebut. Sayangnya banyak pembaca yang menangkapnya
sebagai suatu cerita tersebut dari segi percintaannya saja, atau mungkin hanya
sedikit orang yang membaca cerita Siti Nurbaya ini.
Pers dan Nasionalisme
Pers
di Indonesia mulai berkembang setelah dibelakukannya politik etis. Mengapa
demikian? Hal ini dikarenakan mulai sejak diberlakukanya politik etis, bangsa Indonesia
sedikit demi sedikit mulai melek huruf. Selain politik etis, perkembanngan pers
di Indonesia
dipengaruhi juga oleh masuknya mesin cetak.
Pada
rentang waktu antara tahun 1900 sampai 1920 ada sekitar 180 jenis surat kabar
yang beredar di kota Batavia. Surat
kabar, majalalah yang beredar pada masa itu terbagi ke dalam empat bahasa, yaitu
Tionghoa-Melayu, Belanda, Jawa, dan
Arab. Jadi bisa dikatakan perkembangan pers di Indonesia dipetakan kedalam tiga
golongan, yaitu pers Belanda, pers Cina, dan pers Pribumi (Hasan, 2002: ).
Menurut daftar B. Schirieke, salah seorang penasihat
pemerintahan urusan bumiputra memaparkan bahwa ada sekitar 107 surat kabar dan majalah yang terbit tahun
1920an. Beliau juga menjelaskan dari 107 surat kabar dan majalah tersebut
digolongkan menjadi empat corak, yaitu nasional, liberal, radikal dan
komunistis. (Husin, 1978 : 115).
Pers
dijadikan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan paham nasionalisme. Mengapa
pers? Karena surat
kabar atau pers merupakan suatau alat untuk membentuk suatu kolektivitas
pemikiran secara massal. Meskipun pada masa-masa Hindia Belanda hanya sedikit
sekali yang bisa membaca, namun pers pada masa tersebut mampu memberikan kontribusi
bagi perkembangan nasionalisme di Indonesia .
Pers
yang ada pada masa perjuangan kemerdekaan tersebut ada yang berskala nasional
dan ada pula yang berskala lokal. Pers skala lokal ini juga mempunyai peranan
yag cukup penting juga bagi pembentukan rasa nasionalisme Indonesia . Pers local ini
memberikan kontribusi mengenai pemahaman-pemahaman makna nasionalisme,
kemerdekaan bagi bangsa Indonesia .
Pers lokal ini sangatlah penting, karena pers kmampu menjangkau
daerah-daerah yang tidak terjangkau bagi pers yang berskala nasional. Jadi bisa
dikatakan pers lokal merupakan alat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar