Jumat, 13 Januari 2012


SASTRA DAN NASIONALISME

Kebanyakan orang, khususnya masyarakat awam mengangap karya sastra adalah suatu karya yang bernilai seni. Sastra juga identik dengan puisi, novel, cerpen, dan lain sebgainya. Sastra juga bsa dikatakan seni seseorang dalam mengolah kata. Sastra digunakan hanya sebagai hiburan dan hanya  dinikmai oleh segelintir orang yang memahami karya sastra tersebut. Karya sastra yang banyak dijumpai berkisar tentang romantisme seseorang yang sedang jatuh cinta. Coretan-coretan karya sastra itu merupakan ungkapan dan gambaran perasaan seseorang yang sedang ia rasakan, pikirkan. Kadang kalanya ada juga karya sastra yang menggambarkan kondisi sosial  masyarakat yang terjadi pada sang penulis.
Karya-karya sastra tersebut mengandung nilai-nilai moral yang terungkap secara tersirat. Nilai-nilai moral tersebut dapat diambil sebagai ibrah atau hikmah bagi pembaca. Ibrah atau hikmah yang terkandung di dalam karya satra tersebut merupakan suatu pengalaman yang disampaikan dari sang penulis dengan maksud agar sang pembaca dapat mengambil hikmah tersebut dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Mungkin banyak di antara kita yang masih belum mengetahui ada karya-karya sastra yang mengandung nilai-nilai nasionalisme. Contohnya, kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maringih. Sebenarnya di dalam cerita tersebut terkandung makna-makna nasionalisme, akan tetapi kebanyakan orang hanya menangkap isi cerita si Siti Nurbaya yang nikahkan secara paksa oleh Datuk Maringgih. Kalau sang pembaca cerita ini memahami benar kisah Siti Nurbaya ini, pembaca dapat menyimpulkan bahwa si Datuk Maringgih lah yang menjadi tokoh sentral dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme tersebut. Sayangnya banyak pembaca yang menangkapnya sebagai suatu cerita tersebut dari segi percintaannya saja, atau mungkin hanya sedikit orang yang membaca cerita Siti Nurbaya ini.

Pers dan Nasionalisme
Pers di Indonesia mulai berkembang setelah dibelakukannya politik etis. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan mulai sejak diberlakukanya politik etis, bangsa Indonesia sedikit demi sedikit mulai melek huruf. Selain politik etis, perkembanngan pers di Indonesia dipengaruhi juga oleh masuknya mesin cetak.
Pada rentang waktu antara tahun 1900 sampai 1920 ada sekitar 180 jenis surat kabar yang beredar di kota Batavia. Surat kabar, majalalah yang beredar pada masa itu terbagi ke dalam empat bahasa, yaitu Tionghoa-Melayu, Belanda, Jawa,  dan Arab. Jadi bisa dikatakan perkembangan pers di Indonesia dipetakan kedalam tiga golongan, yaitu pers Belanda, pers Cina, dan pers Pribumi (Hasan, 2002: ).
Menurut  daftar B. Schirieke, salah seorang penasihat pemerintahan urusan bumiputra memaparkan bahwa ada sekitar 107 surat kabar dan majalah yang terbit tahun 1920an. Beliau juga menjelaskan dari 107 surat kabar dan majalah tersebut digolongkan menjadi empat corak, yaitu nasional, liberal, radikal dan komunistis. (Husin, 1978 : 115).
            Pers dijadikan suatu alat yang digunakan untuk menyebarkan paham nasionalisme. Mengapa pers? Karena surat kabar atau pers merupakan suatau alat untuk membentuk suatu kolektivitas pemikiran secara massal. Meskipun pada masa-masa Hindia Belanda hanya sedikit sekali yang bisa membaca, namun pers pada masa tersebut mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan nasionalisme di Indonesia.
            Pers yang ada pada masa perjuangan kemerdekaan tersebut ada yang berskala nasional dan ada pula yang berskala lokal. Pers skala lokal ini juga mempunyai peranan yag cukup penting juga bagi pembentukan rasa nasionalisme Indonesia. Pers local ini memberikan kontribusi mengenai pemahaman-pemahaman makna nasionalisme, kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Pers lokal ini sangatlah penting, karena pers kmampu menjangkau daerah-daerah yang tidak terjangkau bagi pers yang berskala nasional. Jadi bisa dikatakan pers lokal merupakan alat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar