SEJARAH LISAN DI INDONESIA DAN KAJIAN SUBJEKTIVITAS
“Sejarawan Bukanlah Introgator ataupun
Reporter”
Penulisan
sejarah kontemporer bagi kalangan sejarawan sedang sekarang ini sedang
hangat-hangatnya. Pelurusan sejarah dimasa kontemporer menjadi hal yang
dilematik bagi sejarawan. Sejarawan sendiri dituntut untuk tidak mengedepankan
kembali sejarah dari sisi kaca mata orang-orang besar. Sejarah kontemporer yang
masih menjadi tanda tanya yang besar yaitu mengenai Sejarah PKI , penumpasan
gerakan 30 september.
Penulisan
sejarah kontemporer ini lumayan sulit. Hal ini dikarenakan sumber-sumber yang
ada pada masa itu jarang ditemukan. Untuk mengatasi kekeringan sumber tersebut,
sejarawan harus menggunakan metode lain dalam penulisan sejarah. Sejarah lisan mungkin dapat mengatasi kekeringan sumber bagi sejarawan yang sedang
menulis tentang sejarah kontemporer.
Namun
yang harus diperhatikan dalam penulisan sejarah lisan, di sini ada unsur
subjektivitas sumber yang begitu kental. Sejarah lisan bukanlah sekedar
wawancara seseorang seperti biasanya, bukan juga pengintrogasian sumber sejarah
lisan tersebut. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan bagi sejarawan yang
ingin melakukan sejarah lisan di antaranya: sejarawan harus bersikap kritis
dalam melakukan pewawancaraan, hal ini dilakukan guna menyortir mana yang
subjektif, dan yang objektif. Memang benar sulit sekali memisahkan antara
subjektif dan objektif, karena tak ada yang objektif kecuali peristiwa itu
sendiri. Setidaknya sejarawan harus mengkritik sebelum maupun sesudah wawancara
lisan dilakukan. Pengkritikan sebelum wawancara lisan dilakukan dengan kritik
internal, yaitu apakah si sumber lisan mau dan mampu tidak untuk melakukan
wawancara. Mau di sini berarti apakah si sumber lisan ini mau memaparkan
kebenaran, memberikan kesakasian tentang kebenaran itu. Misalnya saja, pada
saat melakukan wawancara mengenai peristiwa Gerakan 30 september, apakah si
saksi mau memaparkan kejadian tersebut, di sini si saksi akan berusaha menyimpan
sebagian fakta-fakta yang dia alami. Mungkin saja karena ketakutan mereka untuk mengungkapkan fakta tersebut.
Mampu, mampu disini berarti apakah saksi dari peristiwa itu hadir pada saat
peristiwa itu terjadi, apakah saksi dekat dengan peristiwa itu, dan apakah keahlian
saksi itu. Pengkritikan setelah melakukan wawancara dengan sumber lisan yaitu
dengan mengkoroborasi hasil wawancara dengan sumber-sumber lainnya.
Faktor
yang penting lainnya, ketika melakukan wawancara lisan adalah psikologi dari si
sumber lisan. Faktor ini sangat lah penting, dikarenakan dari faktor ini si
pewawancara mau tidak melakukan wawancara. Mungkin saja ada kejadian dimasa
lalu itu yang tidak ingin dia paparkan karena hal tersebut merupakan aib bagi
dirinya. Selain itu mengkin saja ada ketakutan dari si sumber, apabila si
sumber memaparkan semua kejadiannya, si sumber takut nantinya dia ditangkap
oleh pihak yag berwajib. Nah…ini yang perlu di garis bawahi oleh sejarawan,
sejarawan bukanlah seorang introgator, sejarawan hanya melakukan wawancara
terhadap si sumber, bukan untuk menyalahi si sumber, atau menghakimi si sumber.
Biarkanlah si sumber menceritakan kejadian yang dia alami. Sejarawan jangan
sekali-sekali memotong pembicaraan si sumber
lisan, dan jangan juga menyalahkan pernyataan dari sumber. Bisa jadi,
apabila sejarawan menyangah pernyataan dari si sumber, dia tidak akan
memaparkan yang lebih banyak lagi kejadian yang dialaminya. Anggaplah diri kita
adalah seseorang yang tidak mengetahui seluk beluk peristiwa tersebut. Dalam hal
ini, Sejarawan harus menjadi pendengar yang baik, pendengar yang antusias untuk
mendengarkan apa yang dipaparkan. Buatlah nyaman si sumber lisan sehingga dia
tidak canggung memaparkan semuanya, bahkan hal-hal yang rahasia sekali pun.
Penulisan
sejarah kontemporer Indonesia
dangan menggunakan metode sejarah lisan ini cukuplah efektif. Hal ini
dikarenakan, suber yang ada merupakan sumber yang hidup, sumber hidup ini dapat
memaparkan semua kejadian yang dialaminya apabila si sejarawan mampu membaca
situasi dan psikis dari sumber tersebut. Mungkin kendala yang akan banyak
dilalami oleh sejarawan dalam melakukan wawancara adalah ketidakterusterangan
dari sumber. Jadi sejarawan di sini harus pintar mendekati sumber, mebuat nyaman
sumber, sehingga dia mau memaparkan
kebenaran tersebut. Dan sekali lagi sejarawan itu bukanlah introgator, yang
menyalahkan pernyataan si sumber dan bukan pula seorang reporter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar