Selasa, 17 Januari 2012


“ Kota Jakarta Dulu dan Sekarang”

Jakarta, nama ini tidak semata-mata muncul begitu saja. Nama ini berasal dari nama Jayakarta, jaya berarti kemenangan dan karta berarti paripurna. Awal mulanya sebelum manjadi Jayakarta, kota ini bernama Sunda Kelapa. Kota pelabuhan di sekitar selat sunda ini pada awalnya tidak terlalau ramai. Baru sekitar abad ke 12, pelabuhan ini terkenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Banyak kapal-kapal dagang asing yang datang ke pelabuhan ini. Negara-negara asing tersebut antara lain Tiongkok, Jepang, India, dan Timur Tengah dan tak terkecuali dari negara Eropa seperti Portugis, Spannyol, Inggris dan Belanda. Negara-negara Eropa ini awalnya berniat berdagang di pelabuhan ini. Namun karena melihat hidup dan ramainya pelabuhan ini, merekapun berniat untuk memonopoli dan sampai akhirnya ingin menguasai, menjajah daerah pelabuhan ini. Portugislah mengawali penjajahan di pelabuhan Sunda kelapa ini.
Pada tanggal 22 Juni 1527, Kerajaan Cirebon dibantu oleh Demak menyerang dan mematahkan hubungan kerjasama antara kerajaan Sunda dengan Portugis dibawah pimpinan Fatahillah atau Faltehan, pelabuhanpun dapat dikuasai. Kemenangan ini disyukuri dengan mengubah nama Sunda kelpa menjadi Jayakarta. Tangggal kemenangan ininlah yang dijadikan sebagai tanggal lahirnya kota Jakarta.
Setelah Portugis berhasil ditaklukkan, jayakarta tidak dapat lepas juga dari pengaruh asing. Pada sekitar tahun 1596, Belanda singgah di Jayakarta. Pada tahun 1619, VOC (persekutuan dagang Belanda) dibawah pimpinan Jean Pieterzoon coen menaklukkan dan mengubahnya menjadi Batavia. Pada masa Jean Pieterzoon Coen inilah, Batavia dijadikan kota pelabuhan sekligus sebagi pusat pemerintahan. Kota Batavia ini dibangun sedemikian rupa, sehingga menyerupai kota-kota di Belanda. Di kota ini dibangun benteng dan didalam benteng tersebut hanya orang-orang Belanda dan Eropa saja yang menempatinya, sedangkan orang pribumi, Timur Asing dan Timur Tengah berada di luar benteng. Karena pemetaan wialyah kota Batavia ini, interaksi antara pribumi dengan orang-orang Timur Asing dan Timur Tengah terjali. Dengan adanya interaksi demikian, terjadi akulturasi kebudayaan pribumi dengan negara-negara tersebut, sehingga menimbulkan suatu kebudayaan yang baru, tapi tak lepas dari kedua kebudayaan tersebut, contohnya: gambang kromong, tari cokek.
Jakarta dulu dan sekarang tidak jauh berbeda. Penduduknya heterogen, dari berbagai suku bangsa dan negara ada di Jakarta. Jakarta seolah-olah menjadi medan magnet yang kuat, sehingga banyak penduduk yang berada diluar wilayah Jakarta tertarik untuk datang ke Jakarta. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan pertukaran uang di Jakarta jauh labih dinamis dibandingkan kota-kota di luar Jakarta, fasilitas yang lengkap serta didukung oleh sarana pariwisata yang membuat seseorang betah tinggal menetap di Jakarta. Keadaan penumpukan penduduk yang demikianlah yang memperparah kota Jakarta. Pembangunaan gedung-gedung yang tidak terkendali. Daerah peresapan air pun dijadikan daerah pemukiman penduduk, seperti daerah rawa belong, rawa kepa, rawa angke. Inilah yang menyebabkan kota Jakarta menjadi daerah langganan banjir tiap tahunnya. Selain itu kanal-kanal, kali-kali di Jakarta yang berfungsi sebagai pembuangan air, banyak sampah sehingga kali tersebut dangkal. Inipun lagi-lagi karena human error, kesalahan penduduk Jakarta yang tidak peduli akan kebersihan kota yang yang berjuluk kota metropolitan ini.
Keadaan ini jauh berbeda dengan keadaan kota Jakarta pada masa Batavia. Kanal-kanal, parit-parit teratur rapih dan bersih, mungkin bisa dikatakan apabila Jakarta masih bernama Batavia (penjajahan Belanda) keadaan kota Jakarta akan seperti kota Amsterdam di Belanda. Meskipun Belanda menjadi penjajah negeri kita sehingga membuat penduduk negeri ini menderita, seharusnya kita belajar dari negeri kincir angin tersebut mengenai tata kota yang baik. Dan seharusnya tidak meniru yang negative dari mereka seperti KKNnya (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar