Dunia dalam Setting Media
Oleh : Pramita
Dizaman yang begitu canggih sekarang ini, segala bentuk informasi dan komunikasi begitu mudah dan cepat untuk diperoleh oleh masyarakat luas. Media komunikasi dan informasi ini selalau bekembang seiring perkembangan zaman. Bermula dari surat kabar, majalah, koran, atau yang biasa kita sebut sebagai media cetak. Kemudian berkembang menjadi media elektronik seperti radio, telegram, telepon, televisi, dan yang sekarang sedang marak adalah internet.
Manusia itu pada dasarnya adalah makhluk peniru. Manusia melakukan suatu perbuatan bukan dari dirinya sendiri, melainkan dengan melihat apa yang dicontohkan sebelumnya. Salah satu media yang dijadikan plagiasi oleh manusia itu adalah media komunikasi massa . Pengertian media menurut Denis MC. Quail itu berarti sebuah industri yang berkembang yang menciptakan suatu lapangan pekerjaan, barang dan jasa. Selain itu juga media dikatakan sebagai sebuah institusi tersendiri yang memiliki peraturan dan norma yang terkait dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya. Media massa merupakan alat control, manajemen dan inovasi dalam masyarakat menjadi sumber untuk memperoleh realitas sosial. Komuniksasi massa dipengaruhi oleh kemampuan untuk membuat produksi massa dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Jadi media komunikasi massa bisa mengontrol dan memengaruhi kehidupan manusia.
Kita sering melihat seseorang yang berprilaku yang sama dengan yang ada di film-film dan sinetron. Bahkan yang lebih parahnya lagi kriminalitas yang ditampilkan oleh media, ditiru juga oleh seseorang yang melihat tayangan tersebut. Contohnya, media televisi memberitakan pembunuhan seseorang dengan cara memutilasi korbannya, kemudian beberapa hari kemudian cara pembunuhan tersebut diulangi lagi oleh orang yang melihat media tersebut yang merencanakan atau tidak merencanakan pembunuhan tersebut.
Begitu sangat besar pengaruhnya media komunikasi massa ini, membuat para politikus memanfaatkan media ini sebagai wadah politik mereka. Media komunikasi ini mereka setting sedemikian rupa untuk mendukung ideologi yang mereka usung. Mungkin hal ini terlihat jelas ketika adanya pemilihan umum. Karena peranan media ini sangat penting, para calon kandidat pemegang kursi kekuasaan memanfaatkan peranan media komunikasi ini sebagai lahan mereka untuk berkampanye. Menurut McCombs seorang profesor bidang jurnalistik di Universitas Texas , Austin dan Shaw menyimpulkan bahwa media massa secara signifikan mempengaruhi pada para pemilih dengan sajiannya yang dianggap sebagai masalah utama dari kampanye.
Studi komunikasi yang berfokus pada pengaruh media massa dalam agenda politik melatarbelakangi teori penataan agenda (agenda-setting). Teori ini dikemukakan oleh dua peneliti AS, Malcom McCombs dan Donald Shaw, sebagai hasil riset yang mereka lakukan pada pilpres AS 1972, sebagai hubungan positif antara agenda media dan agenda publik. Mereka menamai hubungan ini dengan sebutan agenda-setting.
Agenda setting memusatkan perhatian pada efek media massa terhadap pengetahuan. Fokus perhatian bergeser dari efek afektif ke efek kognitif. Media tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tapi media massa cukup berpengaruh pada apa yang ada di pikiran orang. Jadi media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Media massa memilih informasi yang dikehendaki dan berdasarkan apa yang di terima, khalayak membentuk persepsinya sendiri tentang berbagai peristiwa.
Media massa tidak menentukan “what to think” tapi mempengaruhi “what to think about”. Dengan memilih berita tertentu dan menyampingkan yang lain, menonjolkan satu persoalan, media membentuk citra atau gambaran dunia kita seperti yang disajikan media massa . Fungsi agenda setting sendiri menurut McCombs dan Shaw adalah mampu menimbulkan perubahan kognitif diantara individu-individu.
Pengaruh media komunikasi massa ini yang begitu besar ini sudah dimanfaatkan oleh para pejuang kemerdekaan pada massa pergerakan nasional. Pada massa itu banyak organisasi-organisasi politik yang menggunakan alat media komunikasi massa untuk nenyiarkan ideoligi mereka. Ideology yang mereka punyai harus tersebar ke khalayak banyak, karena apabla ideology tersebut tidak tersebarkan, mana ada para pengikut mereka dan bila tak ada regenerasi di tubuh mereka, ideology mereka akan mati. Sebagai contoh organisasi politik yang menggunakan media komunikasi massa adalah Indishe Partij (Partai Hindia) menerbitkan majalah yang berjudul De Express. Dan H.M Misbach yang menerbitkan majalah Medan Moeslimin untuk umat Islam dan menyiarkan Islam dan komunisme ketika Sarekat Islam mulai terpengaruh oleh paham-paham komunis.
Asumsi bahwa media media komunikasi ini bisa menyetting dunia ini sampai sekarang pun dapat dirasakan. Pemikiran bahwa media penyetting dunia pun memang terbukti, buktinya banyak yang berlomba-lomba untuk menguasai media komunikasi dan informasi yang ada. Dengan menguasai media komunikasi inilah, sang pemegang kekuasaan dapat menyetiing pikiran yang melihat dan mendengar informasi yang mereka transformasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar