Bagi warga
Ibukota Jakarta mendengar kata metromini tidak lah asing di telinga. Mini bus
berwarna orange ini tiap hari
berkeliaran di jalanan ibukota dengan kecepatan seperti kuda jingkrak. Sang
supir metromini ini mengendarai seolah-olah pembalab di sirkuit jalanan. Minibus
ini seharusnya tak layak beredar di kota metropolitan, karena dari segi
kenyamanan pun sangat kurang. Penumpang seakan menaiki kaleng bermesin dengan
laju kecepatan tinggi.
“Yah...mau bagaimana
lagi mbak, hanya metromini yang bisa masuk ke jalan-jalan kecil seperti ini,
busway kan bisanya di jalan besar. Selain itu metromini juga murah mbak
ongkosnya cuma tiga ribu perak dari pada naik ojek, bisa-bisa habis sepuluh
ribu rupiah ” ujar salah satu penumpang metromini 53 jurusan Condet Kampung
Melayu saat berbincang-bincang tanggal 15 februari 2014.
Murah dan hanya
satu-satunya kendaraan yang mampu melewati jalan kecil itu alasan mengapa
metromini menjadi primadona penumpang. Seharusnya pengelola dari metromini
memperbaiki kondisi minibusnya. Penumpang butuh kendaraan yang nyaman dan aman
untuk akses mereka ke tempat tujuan yang tak bisa dijangkau busway. Bukankah
kondisi yang nyaman untuk para penumpang menjadi poin plus buat metromini? Mungkin
juga citra metromini sebagai minibus kaleng nan butut akan hilang dari persepsi
masyarakat.