Selasa, 25 Februari 2014

KALENG BUTUT BERMESIN ITU BERNAMA METRO MINI


Bagi warga Ibukota Jakarta mendengar kata metromini tidak lah asing di telinga. Mini bus berwarna orange ini tiap hari berkeliaran di jalanan ibukota dengan kecepatan seperti kuda jingkrak. Sang supir metromini ini mengendarai seolah-olah pembalab di sirkuit jalanan. Minibus ini seharusnya tak layak beredar di kota metropolitan, karena dari segi kenyamanan pun sangat kurang. Penumpang seakan menaiki kaleng bermesin dengan laju kecepatan tinggi.
Meskipun kondisi kelayakan dari metromini itu terasa kurang, akan tetapi si orange ini  selalu penuh sesak penumpang. Mulai dari anak sekolah sampai kakek-kakek pun menjadi penumpangnya. Menarik sekali, mengapa minibus ini selalu penuh dengan penumpang? padahal kondisi bus tidak nyaman, rawan pencopetan, bahkan nyawa mereka pun bisa terancam karena supir bus metromini biasanya mengendarai secara ugal-ugalan.
“Yah...mau bagaimana lagi mbak, hanya metromini yang bisa masuk ke jalan-jalan kecil seperti ini, busway kan bisanya di jalan besar. Selain itu metromini juga murah mbak ongkosnya cuma tiga ribu perak dari pada naik ojek, bisa-bisa habis sepuluh ribu rupiah ” ujar salah satu penumpang metromini 53 jurusan Condet Kampung Melayu saat berbincang-bincang tanggal 15 februari 2014.
Murah dan hanya satu-satunya kendaraan yang mampu melewati jalan kecil itu alasan mengapa metromini menjadi primadona penumpang. Seharusnya pengelola dari metromini memperbaiki kondisi minibusnya. Penumpang butuh kendaraan yang nyaman dan aman untuk akses mereka ke tempat tujuan yang tak bisa dijangkau busway. Bukankah kondisi yang nyaman untuk para penumpang menjadi poin plus buat metromini? Mungkin juga citra metromini sebagai minibus kaleng nan butut akan hilang dari persepsi masyarakat.